Selasa, 05 Januari 2010

abu hafsh umar bin khaththab

Abu Hafsh Umar bin Khaththab
Dia adalah Umar bin Khaththab bin Naufal bin Abdul Uzza bin Rabbah bin Abdillah bin Qarth bin Razah bin Adi bin Ka'ab bin Lu'ai. Sedangkan ibunda beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin Al Mughirah bin Abdillah bin Amru bin Makhzum. Umar bin Khattab sendiri menyatakan keislamannya pada tahun keenam setelah Rasulullah diangkat sebagai Rasul Allah. 1) Namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau memeluk agama Islam pada tahun kelima setelah masa kerasulan

Latar Belakang Umar Masuk Islam
Dari Ibnu Umar radiyallohu 'anhuma bahwa Nabi Shallallohu 'alaihi wassalam bersabda, “Ya Allah, kokohkanlah agama Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, yakni Umar bin Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata diantara kedua orang itu yang lebih dicintai adalah Umar bin Khaththab radiyallohu 'anhu 2)

Ciri-ciri Fisik Umar bin Khaththab
Umar bin Khaththab radiyallohu 'anhu adalah seorang laki-laki yang berkulit sangat putih dan terkesan kemerah-merahan. Berpostur tubuh tinggi dan botak dibagian depan kepalanya, memiliki bola mata sangat merah dan permukaan pipinya terkesan cekung. Wahab berkata, “Sifat Umar di dalam kitab Taurat disebutkan bahwa da adalah tanduk yeng terbuat dari besi seorang pemimpn yang sangat tegas.”

Putra-Putri Umar
Diantara putra-putri Umar bin Khaththab yang berasal dari istrinya yang bernama Zainab binti Mazh'un adalah Abdullah, Abdurrahman, dan Hafshah dan Ruqayyah. Dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Jarul adalah Zaid Al Ashgar dan Ubaidillah. Dari Istrinya yang bernama Jamilah hanya memilki satu orang putra yang bernama Ashim. Dari istrinya yang bernama Lahiyyah juga hanya seorang putra yang bernama Abdurrahman Al Ausath. Dari Istrinya yang merupakan Ummu Walad (hamba sahaya wanita yang digauli tuannya -penerj.) juga membuahkan seorang putra yang bernama Abdurrahman Al Ashgar. Dari istrinya yang bernama Fakihah hanya mendapatkan seorang putri yang bernama Fatimah.

Ayat Al Qur'an yang Turun Sesuai Ide Umar
Dari Anas radiyallohu 'anhu, dia berkata: Umar bin Khaththab radiyallohu 'anhu berkata, “Ideku sesuai dengan (ayat) Tuhanku 'Azza wa Jalla dalam tiga hal. Aku pernah berkata, 'Wahai Rasulullah, andai saja Anda menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat'. Maka diturunkan ayat Al Qur'an, '…Dan jadikanlah sebahagian Maqam Ibrahim tempat shalat…'(QS Al Baqarah(2):125. Aku pernah berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang yang berkunjung kepada istri-istrimu itu ada yang baik dan ada pula yang durhaka. Andai saja Anda menyuruh mereka untuk memakai hijab'. Maka diturunkanlah ayat Al Qur'an tentang hijab. Para Istri Rasulullah juga pernah berkumpul karena cemburu kepada Rasulullah. Maka aku berkata, ' Andai saja TUhannya Rasulullah menceraikan kalian kemudian menggantikan untuk beliau beberapa orang istri yang lebih baik dibandingkan dengan kalian'. Lalu turunlah ayat mengenai hal itu.”(HR. Bukhari-Muslim)3)

Beberapa Keutamaan Umar
Menurut para ulama, ketika Umar memeluk agama Islam, maka agama Allah semakin kokoh. Dia juga melakukan hijrah secara terang-terangan dan ikut serta dalam perang Badar, Uhud, dan beberapa peperangan lainnya. Dia merupakan Khalifah pertamayang dipanggil dengan julukan Amirul Mukminin, orang yang pertama kali menetapkan kalender Islam bagi kaum Muslimin, orang yang pertama kali mengkodifikasikan Al Qur'an dalam mushaf, orang pertama yanng mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan orang pertama yang melakukan ronda malam dalam menjalankan tugas kekhalifahannya.

Dialah orang yang menentukan hukuman dengan pukulan tongkat, menaklukkan beberapa daerah baru, menetapkan pajak bagi kaum non-muslim, membuka kota-kota kosmopolitan, mengangkat para qadhi (hakim), membentuk berbagai departemen, dan menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan para istri Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam di akhir ibadah haji yang dia tunaikan.4)

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Pada umat-umat terdahulu ada beberapa orang reformis. Kalau reformis itu ada didalam umatku, maka Umar adalah orangnya.” (HR. Bukhari-Muslim)5)

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau pernah bersabda kepada Umar, ”Demi Dzat yang menguasai jiwaku, tidak akan ada syetan yang bertemu denganmu disebuah jalan, kecuali dia akan memilih jalan lain yang tidak kamu lewati”.(HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain)6)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Aku bermimpi melihat orang-orang tengah berkumpul disebuah dataran tinggi. Lalu Abu Bakar menarik satu atau dua timba besar berisi air. Ternyata, tarikannya ada yang tidak begitu kuat. Semoga Allah memberikan ampunan kepadanya. Kemudian Umar yang mengambil alih tarikan tersebut dengan begitu sigap dan kuat. Aku belum pernah melihat orang yang sesigap Umarsehingga dia bisa membuat orang-orang memberi minum hewannya sampai puas.”(Hadits ini disepakati shahih).7) (Tafsir mimpi ini seputar kekhilafahan yang dipimpin oleh kedua orang Sahabat tersebut –penerj).

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, menyampaikan hadits dengan bersabda sebagai berikut, ”Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberi segelas air. Lalu aku memimumnya sehingga sekujur tubuhku menjadi lega. Kemudian aku memberikan sisa air minum itu kepada Umar'. Para Sahabat bertanya, 'Bagaimana Anda menakwilkan mimpi itu, wahai Rasulullah?' Rasulullah menjawab, '(Takwilan untuk air yang aku berikan kepada Umar) adalah ilmu pengetahuan'.” (Hadits ini disepakati shahih)8)

Awal Kekhalifahan Umar bin Khaththab
Hamzah bin Amru berkata,”Abu Bakar radiyallohu 'anhu meninggal dunia pada malam selasa tanggal 8 Jumadil Awal 13 H. Maka, Umar menggantikan kursi kekhalifahan pada pagi hari kematian Abu Bakar.”

Dari Jami' bin Syadad, dari ayahnya , dia berkata: Kalimat pertama yang diucapkan Umar ketika naik keatas mimbar (pelantikan sebagai khalifah) adalah, “Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, kuatkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan.”9)

Perhatian Umar Terhadap Rakyat
Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dia berkata: Aku pernah pergi ke pasar bersama-sama Umar radiyallohu 'anhu. Lalu dia dibuntuti oleh seorang wanita muda. Wanita itu berkata,”Wahai Amirul Mukminin, suamiku telah meninggal dunia. Dia meninggalkan beberapa orang anak yang masih kecil. Demi Allah, bahkan mereka masih belum cakap mematangkan betis kambing. Mereka juga tidak memiliki persediaan makanan maupun hewan yang bisa diperah susunya. Oleh karena itu, aku sangat khawatir kalau berbuat zhalim terhadap mereka (karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka). Sedangkan aku sendiri adalah putri Khufaf bin Ima' Al Ghiffari. Ayahku telah menjadi Syahid pada waktu hari Al Hudaibiyah. Pada waktu itu, ayahku ikut berjuang bersama-sama dengan baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Umar terdiam ketika mendengar laporan wanita itu dan tidak meneruskan perjalanannya. Bia berkata,”Selamat datang, wahai orang yang garis nasabnya masih dekat (dengan suku Quraisy)!” Kemudian beliau menghampiri seekor unta yang sangat kuat punggungnya, yang sedang diikat disebuah rumah. Lalu Umar meletakkan dua buah karung yang diisi penuh dengan bahan makanan. Dia juga menyediakan beberapa (uang) untuk nafkah, serta beberapa potong pakaian. Setelah itu, Umar menyerahkan tali kendali unta itu kepada wanita itu sambil berkata,”Tuntunlah unta ini!Unta ini tidak akan binasa sampai Allah melimpahkan kebaikan untuk kalian.”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata,”Wahai Amirul Mukminin, Anda terlalu banyak menyerahkan pemberian kepada wanita itu.” Umar ganti berkata,”Celaka kamu ini!Demi Allah, sesungguhnya menurutku, ayah wanita ini dan juga saudara laki-lakinya telah ikut memblokir benteng (musuh) dimasa lampau. Mereka berdua juga telah ikut andil menaklukan benteng musuh tersebut. Namun pada pagi harinya, kita yang malah memungut harta rampasan perang yang menjadi jatah keduanya.” (HR.Bukhari)10)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sekelompok pedagang telah datang. Mereka singgah disebuah tempat shalat. Maka Umar berkata kepada Abdurrahman, “Apakah kamu memiliki orang yang bisa mengamankan barang mereka dari pencurian pada malam ini?” Maka, Umar dan Abdurrahman bermalam di tempat itu untuk menjaga barang dagangan para pedagang tersebut. Mereka berdua melakukan shalat fardhu ditempat tersebut. Ternyata, Umar mendengar tangisan seorag anak kecil. Dia menghampiri anak tersebut sambil berkata kepada ibunya, “Bertaqwalah kamu kepada Allah, berbuatlah yang terbaik untuk anakmu!” Setelah itu, Umar kembali lagi ketempatnya semula. Namun kembali dia mendengar tangisan anak kecil. Dia pun menghampiri ibu anak tersebut sambil memberi nasihat seperti yang dia ucapkan pertama kali. Setelah itu, kembali lagi ke tempatnya semula.

Tatkala malam sudah sangat larut, dia kembali mendengar suara tangisan anak kecil itu sehingga dia menghampiri ibu anak tersebut. Saat itu Umar berkata, “Celaka kamu! Menurutku kamu ini benar-benar seorang ibu yang tidak baik, sebab aku melihat anakmu tidak bisa merasa tenang pada malam ini.” Wanita itu berkata, “Wahai hamba Allah, kamu benar-benar membuatku merasa bosan pada malam ini! Sesungguhnya aku sedang berusaha menyapihnya. Namun anak itu malah tidak mau untuk disapih .” Umar bertanya, “memangnya kenapa?” Wanita itu menjawab, “Karena Umar tidak memberikan jatah waris kecuali kepada anak-anak yang telah disapih.” Umar bertanya, “Berapa usia anak itu?” Wanita itu menjawab, “Sekian bulan.” Umar berkata, “Celaka kamu, janganlah terburu-buru untuk menyapihnya!”

Maka, Umar melakukan shalat Subuh dengan bacaan AL Qur'an yang tidak bisa didengar dengan jelas oleh orang-orang karena dia tidak bisa menahan tangis. Setelah shalat, Umar berkata, “Sungguh celaka Umar! Berapa banyak dia telah membunuh anak-anak kaum muslimin?” Kemudian Umar memerintahkan seseorang untuk menyeru, “Hendaklah kalian tidak terburu-buru menyapih anak-anak kalian, karena sesungguhnya kami akan memberikan jatah waris kepada setiap bayi yang terlahir dalam islam.”11)

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dia berkata: Umar melakukan puasa selama setahun. Memang tahun itu merupakan tahun kebinasaan (bagi kaum muslimin). Jika sore hari telah tiba, maka dia hanya diberi roti yang telah diremukkan dengan minyak. Sampai akhirnya pada suatu hari, orang-orang memotong seekor hewan. Orang-orang membagi-bagikan daging hewan tersebut. Mereka sengaja menyisakan daging bagian yang baik untuk Umar. Lalu potongan daging itu diberikan kepadanya, yakni daging bagian punuk dan hati. Maka Umar berkata, “Dari mana daging ini?” Orang-orang menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, daging ini berasal dari hewan yang telah kami potong pada hari ini.” Umar berkata, “Baik, namun pemimpin yang paling buruk adalah aku kalau sampai memakan daging yang paling baik dari hewan tersebut, sedangkan aku malah memberi orang-orang bagian tulang-belulang hewan itu. Jauhkanlah wadah makanan ini dariku!Beri saja saja aku hidangan selain makanan ini!”

Lalu Umar diberi roti dengan minyak. Dia meremukkan roti itu dengan tangannya sendiri, kemudian dilarutkan kedalam minyak. Setelah itu Umar berkata, “Aduh, celaka wahai Yarfa!” angkatlah wadah makanan ini! Berikanlah makanan ini kepada aggota keluarga di kawasan Tsamgh, karena sesungguhnya aku belum mengunjungi mereka semenjak tiga hari terakhir ini! Aku kira mereka sedang kelaparan. Letakkan saja makanan ini dihadapan mereka!”12)

Sifat Zuhud Umar
Dari Anas, dia berkata,”Pada bagian pakaian antara kedua pundak Umar ada tiga buah tambalan.”13)

Dari Mush'ab bin Sa'ad, dia berkata: Hafshah telah berkata kepada Umar, Wahai Amirul Mukminin, andai saja Anda mengenakan pakaian yang lebih halus dibandingkan dengan pakaian Anda (sekarang ini) dan juga mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang Anda makan (sekarang ini). (Bukankah) Allah telah melapangkan rezeki dan memberikan banyak kebaikan!”Umar menjawab, “Sesungguhnya aku akan memusuhimu (kalau terus menganjurkanku melakukan hal itu). Tidakkah kamu ingat bahwa Rasulullah Sholalohu 'alaihi wasallam senantiasa mengalami hidup yang sangat payah? Begitu juga dengan Abu Bakar?” Umar terus mengingatkan Hafshah hingga akhirnya putrinya itu menangis. Lalu Umar berkata kepadanya, “Ingatlah, demi Allah pasti aku akan menjalani hidupku seperti kehidupan mereka berdua yang sangat sulit! Mungkin saja aku akan mendapatkan kehidupan sejahtera seperti keduanya (di alam berikutnya).” (HR. Ahmad)

Sifat Rendah Hati Umar
Dari Abdullah bin Abbas radiyallohu 'anhuma, dia berkata: Al Abbas memiliki sebuah saluran air yang melewati tanah milik Umar. Pada suatu hari Jum'at, Umar mengenakan pakaiannya. Sedangkan disisi yang lain, dua ayam milik al Abbas disembelih. Ketika saluran air tersebut penuh, maka dituangkanlah air yang telah bercampur dengan darah kedua ayam tersebut. Ternyata cairan itu mengenai pakaian Umar, maka Umar memerintahkan agar pakaian itu dilepas. Diapun kembali pulang kemudian melemparkan pakaiannya dan mengenakan pakaian yang lain. Setelah itu dia datang untuk mengimami orang-orang melakukan shalat jama'ah. Lalu dia didatangi oleh Al Abbas yang ketika itu berkata,”Demi Allah, sesungguhnya ada tempat yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meletakkan (sesuatu).” Maka Umar berkata kepada Al Abbas, “Aku bersumpah dengan nama Allah dihadapanmu, kamu panjat saja punggungku sehingga kamu bisa meletakkannya ditempat yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (meletakkan sesuatu).” Maka Al Abbas melakukan hal itu. (HR. Ahmad) 14)

Rasa Takut dan Tangisan Umar Karena Allah
Dari Abdullah bin Amir, dia berkata: Aku melihat Umar bin Khattab mengambil sebatang tanaman dari tanaman dari tanah, lalu dia berkata, “Andai aku menjadi tumbuhan ini, andai aku tidak diciptakan, andai saja ibuku tidak melahirkanku, andai saja aku tidak menjadi sesuatu apapun, dan andai saja aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.” 15)

Dari Abdullah bin Isa, dia berkata, ” Di wajah Umar terdapat dua garis hitam yang membekas karena beliau terlalu banyak menangis.” 16)

Aktivitas Ibadah Umar
Dari Ibnu Umar radiyallohu 'anhuma, dia berkata,” Umar tidak meninggal dunia sampai beliau telah menunaikan Ibadah puasa secara terus-menerus.”

Dari Sa'id bin Al Musayyib, dia berkata, “Umar senang sekali melakukan Ibadah shalat ditengah malam, tepatnya dipertengahan malam.”

Beberapa Kutipan Perkataan dan Nasihat Umar
Dari Tsabit bin Al Hajjaj, dia berkata: Umar pernah berkata,”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah (kualitas ibadah) diri kalian sebelum (amal perbuatan) kalian akan ditimbang!Karena, sesugguhnya proses hisab kalian akan lebih ringan apabila kalian telah menghisabnya sejak sekarang. Berhiaslah kalian untuk hari pertanggungjawaban yang sangat besar. (Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman, 'Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)'(Qs. Al Haaqqah(69):18)

Dari Al Ahnaf, dia berkata, “Umar bin Khattab berkata kepadaku, 'Wahai Ahnaf, barangsiapa yang terlalu banyak tertawa, maka wibawanya akan berkurang! Barangsiapa suka berkelakar, maka dia tidak akan dihargai. Barangsiapa sering melakukan sesuatu, maka dia akan dikenal dengan sesuatu itu. Barangsiapa terlalu banyak bicara, maka akan banyak kekhilafannya. Barangsiapa banyak kekhilafannya, maka akan sedikit rasa malunya. Barangsiapa sedikit rasa malunya, maka akan berkurang sifat wara'nya. Barangsiapa kurang sifat wara'nya, maka hatinya akan mati'.”

Dari Wadi'ah Al Anshari, dia berkata, ” Aku pernah mendengar Umar bin Khattab menasihati seorang laki-laki sebagai berikut, 'Janganlah kamu berbicara mengenai sesuatu yang tidak berarti bagimu, sehingga kamu menyebabkan pihak musuh mengetahui kelemahanmu! Berhati-hatilah kamu terhadap temanmu, kecuali seseorang yang dapat dipercaya! Sedangkan orang yang bisa dipercaya hanyalah orang yang takut kepada Allah. Janganlah kamu berjalan bersama orang yang durhaka sehingga dia akan mengajarkan perbuatan yang durhaka kepadamu! Janganlah kamu membiarkan dia mengetahui rahasiamu! Janganlah kamu bermusyawarah kecuali dengan orang yang takut kepada Allah 'Azza wa Jalla!”17)

Wafatnya Umar bin Khaththab
Dari Amru bin Maimum, 18) dia berkata: Sesungguhnya jarakku berdiri dengan Umar hanya dipisahkan oleh Abdullah bin Abbas pada pagi hari kematiannya. Jika dia lewat diantara dua shaf, maka dia berkata, “Luruskanlah barisan!” Sampai jika shaf shalat orang-orang sudah tidak terlihat ada yang luang, maka dia maju kedepan untuk bertakbir. Mungkin pada rakaat pertama hari itu dia membaca surah Yusuf atau An-Nahl, atau surah yang semisal dengannya. (Dia membaca surah sepanjang itu untuk menunggu) semua orang berkumpul. Sampai ketika Umar mengucapkan Takbir, maka aku mendengar kalau dia berkata,”Ada orang yang membunuhku atau ada anjing yang menggigitku.”Dia ucapkan kalimat itu ketika sang pembunuh menikam tubuhnya.

Lalu, ada orang kafir yang melintas dengan cepat sambil membawa pisau bermata dua. Dia juga menikam setiap orang yang dia lewati disebelak kanan dan kirinya. Jumlah orang yang terkena tikaman pisau orang kafir itu mencapai 13 orang, sedangkan yang sampai meninggal dunia ada 7 orang. Ketika ada seorang lelaki dari kalangan kaum muslimin melihat orang kafir tersebut, dia langsung melemparkan matel yang ada tudung kepalanya. Ketika orang Kafir tersebut merasa kalau dirinya tertangkap, maka dia langsung memotong lehernya sendiri.

Umar meraih tangan Aburrahman bin Auf. Lalu Umar menyuruhnya untuk maju kedepan. Orang yang berada langsung dibelakang Umar pasti juga melihat peristiwa seperti yang aku saksikan. Sedangkan orang-orang yang berada di ujung masjid, mereka tidak tahu apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanya kehilangan suara Umar yang ketika itu menjadi imam. Oleh karena itulah mereka mengucapkan kalimat, ”Subhanallah, subhanallah” (sebagai peringatan bagi imam apabila melakukan kesalahan). Maka, ganti abdurrahman bin Auf yang mengimami shalat orang-orang secara ringan.

Ketika mereka usai menunaikan ibadah shalat, Umar berkata, “Wahai Ibnu Abbas, lihatlah! Siapakah yang berusaha membunuhku!” Ibnu Abbas pergi sejenak kemudian kembali datang sambil berkata, “Hamba sahaya, Al Mughirah.” Umar berkata, “Lelaki yang memiliki kemahiran kerajinan tangan?” Ibnu Abbas menjawab, “Benar.” Umar berkata, “Semoga Allah memeranginya. Sesungguhnya aku telah memerintahnya melakukan hal yang makruf. Namun, segala puji bagi Allah yang tidak menakdirkan kematianku berada ditangan seorang laki-laki yang mengaku dirinya memeluk agama Islam. Sungguh kamu dan ayahmu senang memperbanyak jumlah orang-orang kafir di Madinah.”

Memang Al Abbas memiliki budak kafir yang jumlahnya sangat banyak. Lalu Ibnu Abbas berkata, “Kalau memenag Anda mau, maka aku akan melakukannya untuk Anda.” Maksudnya membunuh semua budak kafir itu. Namun Umar berkata, ” Kamu salah (kalau sampai membunuh mereka) setelah mereka bisa berbicara dengan bahasa kalian, telah mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat kalian, dan telah menunaikan ibadah haji sesuai dengan ritual kalian.”

Lalu Umar dibawa pulang ke rumahnya. Kami pun ikut pergi bersama-sama dengannya. Sepertinya, orang-orang belum pernah tertimpa sebuah musibah sedahdyat hari itu. Seseorang ada yang berkata, “Umar tidak akan apa-apa.” Namun yang lain berkata, “Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya.” Lalu Umar diberi minumah berupa persan buah kurma, dan diapun meneguknya. Namun cairan itu malah keluar melalui luka yang ada diperutnya. Maka, Umar kembali diberi susu sehingga diapun meneguknya. Namun, cairan itu lagi-lagi keluar dari lukanya itu. Maka, orang-orang pun baru sadar kalau Umar (sebentar lagi) akan tiada.

Kami masuk mengunjungi Umar. Begitu juga dengan orang-orang yang memberikan simpati dan dukungan moril untuknya. Datang pula seorang lelaki muda yang berkata, “Berbahagialah Anda, wahai Amirul Mukminin, dengan kabar gembira dari Allah, karena Anda telah menjadi sahabat Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam! Anda juga tergolong orang yang masuk Islam pertama kali, sebagaimana yang telah Anda ketahui. Kemudian Anda menjadi seorang pemimpin dan sanggup berlaku adil. Setelah itu, Anda mendapatkan anugerah sebagai syahid.” Umar berkata, “Aku ingin agar semua itu menjadi hal yang sekedar (bisa menyelamatkan aku), tidak terlalu bernilai lebih dan tidak pula mencelakakan aku.”

Ketika pemuda itu berbalik, ternyata kain sarungnya menyentuh tanah, Maka Umar berkata, “Tolong panggilkan pemuda itu lagi untukku!” Setelah (pemuda itu kembali menghadap), maka Umar berkata, “Wahai putra saudaraku, angkatlah kian sarungmu, karena hal itu bisa menyebabkan pakaianmu lebih bersih dan juga menyebabkan dirimu lebih takut kepada Tuhanmu! Wahai Abdullah bin Umar, periksalah hutang yang aku miliki! Hitung semuanya!”

Ternyata, Abdullah bin Umar menjumpai Umar memiliki hutang sebasar 87.000 atau sekitar jumlah itu. Maka Umar berkata, “Kalau memang hutangku sejumlah itu cukup dibayar dengan harta milik keluarga Umar, maka bayarkan dengan harta itu. Namun apabila tidak mencukupi, mintalah kepada bani Adi bin Ka'ab. Jika harta mereka masih belum cukup untuk membayar hutang, maka mintalah kepada orang-orang Quraisy. Janganlah kamu sampai meminta kepada orang selain mereka. Bayarkanlah harta ini untuk membayar hutangku. Pergilah kamu menjumpai Aisyah, Ummul Mukminin! Katakan kepadanya, 'Umar mengirim salam kepadamu'. Jangan kamu mengatakan Amirul Mukminin (mengirim salam kepadamu), karena pada hari ini aku bukan lagi amir bagi kaum mukminin. Katakan juga kepadanya bahwa Umar bin Khattab memohon izin agar boleh dimakamkan di samping kedua orang sahabatnya.” Maka, Abdullah mengucapkan salam kepda Aisyah dan masuk kedalam rumahnya. Dia menjumpai Aisyah sedang duduk sambil menangis. Maka Abdullah bin Umar berkata, “Umar menitipkan salam untuk Anda. Dia juga meminta izin untuk dimakamkan di samping kedua sahabatnya.” Maka Aisyah berkata, “Aku yang menghendaki Umar menempati jatah tempat makamku. Pada hari ini, aku pasti lebih mengutamakan Umar dibandingkan diriku.”

Kerika Abdullah bin Umar kembali, maka dikatakan kepada Umar, “Ini, Abdullah bin Umar telah datang!” Umar berkata, Angkatlah diriku!” Lalu ada seorang laki-laki yang menyandarkan tubuh Umar ke tubuh Abdullah. Lalu Umar bertanya, “Berita apa yang kamu dapat?” Abdullah bin Umar menjawab, “Sesuai dengan yang Anda sukai, wahai Amirul Mukminin! Aisyah mengizinkannya.” Umar berkata, Alhamdulillah! Tidak ada sesuatu yang lebih aku idam-idamkan melebihi hal itu. Jika nyawaku telah dicabut nanti, maka gotonglah jenazahku! Kemudian ucapkanlah salam kepada Aisyah dan katakan bahwa Umar bin Khattab meminta izin. Apabila dia memberi izin untukku, maka masukkanlah aku (ke liang kubut di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Namun apabila dia menolak aku, maka makamkanlah saja jenazahku di komplek pemakaman kaum muslimin!”

Tidak lama kemudian, Ummul Mukminin Hafshah datang bersama-sama dengan kaum wanita. Ketika kami melihatnya, maka kami pun berdiri. Hafshah langsung menuju ke arah Umar sambil menangis disisinya selama beberapa saat. Lalu beberapa orang laki-laki memohon izin untuk masuk. Hafsah pun menyingkir dari tempat itu untuk masuk kedalam ruangan. Kami mendengar suara tangisan Hafshah dari arah dalam rumah. Ketika nyawa Umar telah dicabut, kami membawa keluar jenazah tersebut. Lalu Abdullah bin Umar mengucapkan salam (kepada Aisyah dan berkata), “Umar memohon izin (kepada Anda).” Aisyah berkata,” Masukkanlah jenazahnya!” Maka Abdullah bin Umar memasukkan jenazah Umar di sana, yakni bersama kedua orang sahabatnya. (HR. Bukhari)

Dari Usmant bin Affan radhiyallahu 'anhu dia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir kali menyaksikan kematian Umar diantara kalian. Aku mengunjunginya ketika kepalanya berada dipangkuan anaknya yang bernama Abdullah. Lalu Umar berkata kepada putranya itu, 'Letakanlah pipiku diatas permukaan bumi!' Abdullah berkata, 'Bukankah pahaku dan permukaan bumi sama saja?' Umar berkata lagi, 'Letakanlah pipiku diatas permukaan bumi!' Umar mengucapkan kalimat itu sampai dua atau tiga kali. Aku juga mendengarnya berkata, 'Sungguh celaka aku jika Engkau tidak mengampuniku'. Sampai akhirnya nyawanya dicabut dari jasadnya.”19)

Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata, “Umar ditikam pada hari rabu tanggal 14 Dzulhijjah 23 H. Jenazahnya dimakamkam hari Ahad pada pagi hari munculnya hilal bulan Muaharraam.”

Muawiyah berkata, “Usia Umar ketika meninggal dunia adalah 63 tahun.”

Dari Asy-Sya'bi disebutkan bahwa Abu Bakar meninggal dunia pada usia 63 tahun. Begitu juga dengan Umar yang meninggal dunia pada usia 63 tahun.

Menurut Salim bin Abdullah, Umar meninggal dunia pada usia 65 tahun. Ibnu Abbas berkata, “Usia Umar ketika meninggal adalah 66 tahun.” Menurut Qatadah, usia Umar ketika wafat adalah 61 tahun. Bahkan, Shuhaib ikut menyalati jenazahnya.

1) Menurutku, Umar bin Khattab memeluk agama Islam pada tahun keenam setelah kerasulan, yakni pada usia 27 tahun,. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Adz-Dzahabi.
2) Kualitas Hadist ini shahih dan diriwayatkan oleh Tirmidzi (3681). Dalam hal ini Tirmidzi berkata bahwa hadits ini berkualitas hasan-shahih-gharib serta berasal dari hadist Ibnu Umar.
3) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim
4) Al Askari berkata, “Umar bin Khattab adalah orang yang pertama kali diberi julukan Amirul Mukminin, menetapkan penangggalan tahun Hijriyah, membuat Baitul Mal, mengadakan shalat qiyaamu Ramadhan (tarawih) secara berjamaah, mengadakan inspeksi pada malam hari, menjatuhakan hukuman bagi tukang fitnah, menghukum peminum khamer sebanyak 80 kali dera, mengharamkan nikah mut'ah, mengharamkan penjualan hamba sahaya perempuan yang telah melahirkan anak untuk majikannya, mengadakan shalat jenazah berjamaah, dengan empat takbir, membentuk departemen-departemen, mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui jalur laut Ablah, menentukan aturan 'aul dalam ilmu faraid, menarik zakat kuda, dan orang yang pertama kali berkata, 'Ayyadakallah (semoga Allah mengokohkanmu) kepada Ali'.” Demikianlah akhir keterangan yang disampaikan oleh Al-Askari.
5) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3689) dan Muslim(Fadha'ilish-Shahabah/23) pada bab ”min fadha'ili Umar radhiyallahu 'anhu (keutamaan Umar radhiyallahu 'anhu”. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi (9369.3) dari hadits Sa'ad bin Abi Waqqash
6) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3683) dan Muslim (Fadha'ilish-Shahabah/23) pada bab ”min fadha'ili Umar radhiyallahu 'anhu”.
7) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3664) dan Muslim (Fadha'ilish-Shahabah/17) pada bab ”min fadha'ili Umar radhiyallahu 'anhu”.
8) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (7006) dan Muslim (Fadha'ilish-Shahabah/16) pada bab ”min fadha'ili Umar radhiyallahu 'anhu”.
9) Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad didalam kitab Thabaqat-nya. Disebutkan pula oleh Abu Nu'aim di dalam kitab Al Hilyah (I/53).
10) Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari (4160-4161).
11) Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad di dalam kitab Thabaqat-nya
12) Lihat kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad (III/1/223).
13) Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad didalam Az-Zuhd (118) dari jalur Yazid : Kami diceritakan Ismail bin Abi Khalid, dari Mush'ab bin Sa'ad, dia berkata: Hafshah binti Umar telah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, andai saja Anda mengenakan pakaian (yang lebih halus dibandingkan dengan busana Anda)…” Lalu disebutkan redaksi riwayat sampai akhir. Para perawi hadist ini tergolong para perawi yang tsiqah.
14) Kisah ini menunjukkan kisah yang sangat elok mengenai kecintan Sahabat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
15) Lihat lebih lengkap dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad.
16) Keterangan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Az-Zuhd.
17) Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam kitab AL Hilyah (I/55) dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Sahal.
18) Riwayat Bukhari
19) Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dengan kualitas hasan menurut Al Hafizh Al Haitsami. Lihat kitab Al Majma (IX/76).

abu bakar ash-siddik

Abu Bakar Ash-Shiddiq
Nama dan Nasab Abu Bakar
Nama lengkap Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Sedangkan nama ibu beliau adalah Ummul Khair Salma binti Shakhr bin Akir, yang meninggal dunia sebagai seorang muslimah.1)

Ali bin Abi Thalib bersumpah dengan nama Allah bahwa Allah-lah yang telah menurunkan dari langit nama Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar.2)

Sifat-sifat Abu Bakar
Diriwayatkan dari Anas radhiyallohu 'anhu, dia berkata: “Abu Bakar adalah orang yang suka memakai daun pacar dan daun katam untuk mewarnai rambutnya.”3)

Dari Qais bin Abi Hazim dia berkata, “Aku bersama-sama dengan ayahku berkunjung kerumah Abu Bakar. Dia adalah seorang yang berperawakan kurus, tidak terlalu banyak daging dipipinya, dan berambut putih.”4))

Pemeluk Islam Pertama
Hassan bin Tsabit, Ibnu Abbas, Asma' binti Abi Bakar, dan Ibrahim An-Nakha'i berkata, ” Orang yang pertama kali memeluk agama Islam adalah Abu Bakar.”5)

Yusuf bin Ya'kub bin Al Majasyun berkata, “Aku masih sempat menjumpai kehidupan ayahku dan beberapa orang syaikhku. Mereka itu adalah Muhammad bin Al Munkadir, Rabi'ah bin Abi Abdirrahman, Shalih bin Kaisan, Sa'ad bin Ibrahim, dan Utsman bin Muhammad al Akhnasi. Mereka semua tidak meragukan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang pertamakali memeluk agama Islam.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallohu 'Anhuma bahwa dia berkata, “Orang yang pertama kali mengerjakan Shalat adalah Abu Bakar radiyallohu 'anhu.”6)

Diriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata, “Orang yang pertama kali mengerjakan shalat (dari kalangan umat Muhammad) adalah Abu Bakar.”

Putra-Putri Abu Bakar
Diantara putra-putri Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah dan Asma' yang mendapatkan julukan Dzatun-Nithaqain. Ibu dari kedua anak ini adalah Qutailah. Anak Abu Bakar yang lainnya adalah Abdurrahman dan Aisyah, keduanya berasal dari ibu yang bernama Ummu Ruman. Kemudian anak beliau yang lain lagi adalah Muhammad. Ibu anak ini bernama Asma' bin Umais.

Anak Abu Bakar lainnya adalah Ummu Kultsum. Ibu dari putrinya yang satu ini adalah Habibah binti Kharijah bin Zaid. Ceritanya, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq hijrah ke Madinah, beliau singgah di rumah Kharijah. Lalu beliau menikah dengan putrinya yang bernama Habibah tersebut.

Mengenai Abdullah, dia sempat ikut serta pada perang Tha'if. Sedangkan Asma', dia dinikahi oleh Az Zubair dan sempat melahirkan beberapa putra. Namun kemudian Az Zubair menceraikannya. Dia terus hidup bersama putranya yang bernama Abdullah sampuai akhirnya putranya tersebut terbunuh. Asma' sendiri meninggal dalam usia 100 tahun.

Adapun Abdurrahman, dia sempat ikut perang Badar bersama-sama orang musyrik. Namun kemudian dia memeluk agama Islam. Berbeda lagi dengan Muhammad, dia termasuk ahli ibadah dari kalangan orang-orang Quraisy. Hanya saja dia memberikan pertolongan kepada Utsman pada hari kekhalifahannya dikudeta. Diapun telah di angkat oleh Ali bin Abi Thalib sebagai penguasa di Mesir. Hanya saja akhirnya dia di bunuh oleh orang-orang Mu'awiyah di negeri tersebut. Sedangkan Ummi Kultsum, dia dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu.

Perilaku Baik Abu Bakar
Diriwayatkan dari Asma' binti abu bakar, dia berkata: Ada orang minta tolong datang kepada Abu Bakar. lalu dikatakan kepada Abu bakar, “Tolonglah sahabatmu itu! (Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).” Maka, Abu Bakar keluar dari sisi kami. Sesungguhnya ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki empat buah rambut yang dijalin. Maka, Abu Bakar masuk ke dalam Masjidil Haram sambil berkata, “Celaka kalian semua…Apakah kalian membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.” (Qs. Ghaafir (40):28)

Maka orang-orang kafir Quraisy meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menghampiri Abu Bakar. Namun, setelah itu Abu Bakar kembali kepada kita tanpa memegang sedikit pun jalinan rambut milik Rasulullah. Yang dia lakukan hanyalah membawa Rasulullah sambil berkata, “Maha Tinggi Engkau, wahai Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.”7)

Abu Ya'la juga meriwayatkan dengan kualitas sanad yang hasan dengan redaksi yang cukup panjang. Riwayat itu berasal dari Asma' binti Abu Bakar bahwa orang-orang telah berkata kepadanya, “Perlakuan sadis apa yang pernah kamu lihat dilakukan orang-orang musyrik terhadap diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?”

Lalu disebutkan riwayat yang mirip dengan redaksi Abu Ishaq di atas sebagai berikut: Lalu ada orang yang meminta tolong datang menghampiri Abu Bakar. Orang itu berkata, “Tolonglah sahabatmu!” Asma' berkata, “Lalu Abu Bakar beranjak meninggalkan kita. Sedangkan Rasulullah sendiri waktu itu memiliki empat jalinan rambut. Abu Bakar pun berkata, “Celakalah kalian semua. Apakah kalian akan membunuhnya?' Abu Bakar sama sekali tidak menyentuh keempat jalinan rambut Rasulullah sampai akhirnya dia membawanya pulang.”

Kisah tentang Abu Bakar ini memiliki beberapa penguat yang lain. Di antaranya yang berasal dari Al Bazzar dari riwayat Muhammad bin Ali, dari ayahnya bahwa dia telah berkhutbah sebagai berikut, “Siapakah orang yang paling berani?” Orang-orang menjawab, “Kamu.” Ali-yang tidak lain ayah Muhammad-berkata, “Kalau aku, maka tidak pernah berduel dengan seorang pun kecuali aku yang akan jadi pemenangnya. Akan tetapi orang yang paling pemberani adalah Abu Bakar. Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy. Beberapa orang telah menyakiti dan menzhalimi beliau. Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah, “Apakah kamu akan menggantikan beberapa Tuhan yang ada hanya menjadi satu Tuhan saja?' Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kita yang menerima ajakan beliau (untuk memeluk Islam) kecuali hanya Abu Bakar. Tetapi, tetap saja ada orang yang berusaha menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Maka Abu Bakar berkata, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang berkata, 'Tuhanku adalah Allah?'”

Kemudian Ali menangis sambil berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah di hadapan kalian, apakah orang mukmin pada masa Fir'aun lebih utama di bandingkan dengan Abu Bakar?” Maka semua orang terdiam. Ali kembali berkata, “Demi Allah, itulah waktu paling baik yang dimiliki oleh Abu Bakar. Orang mukmin pada masa Fir'aun adalah orang yang menyembunyikan keimanannya. Sedangkan lelaki ini (Abu Bakar) adalah orang yang mengumumkan keimanannya.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Pada waktu malam di dalam gua, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku yang masuk terlebih dahulu sebelum Anda. Jika memang ada seekor ular atau hewan penyengat yang lain, maka dia akan menyengatku terlebih dahulu sebelum menyengat Anda. Rasulullah bersabda, “Kalau begitu masuklah!” Maka, Abu Bakar masuk sambil menutup setiap lubang yang dilihatnya. Dia menutup lubang-lubang itu dengan sobekan pakaiannya. Abu Bakar terus melakukan hal itu sampai dia menyobek seluruh bajunya.

Anas berkata, “Namun ternyata masih ada satu lubang yang tersisa. Maka, Abu Bakar menyumbat lubang itu dengan tumitnya. Barulah setelah itu Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk masuk. Pada keesokan harinya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Dimana bajumu wahai Abu Bakar?' Abu Bakar memberituhukan apa yang telah dia perbuat semalam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, 'Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar berada di derajatku pada hari kiamat nanti'. Lalu Allah 'Azza wa Jalla memberikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala akan mengabulkan permohonanmu itu'.”

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bershadaqah. Kebetulan pada waktu itu aku memiliki harta untuk di shadaqahkan. Maka aku pun berkata, “Pada hari ini aku akan berusaha manandingi amal Abu Bakar.” Aku menshadaqahkan separuh harta milikku. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Apakah kamu tidak menyisakan untuk keluargamu?' Aku menjawab, 'Masih ada separuhnya lagi'. Ternyata Abu Bakar menshadaqahkan seluruh harta miliknya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Apakah kamu tidak menyisakan harta untuk keluargamu?' Abu Bakar menjawab, 'Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi mereka semua'. Maka aku berkata, 'Aku selamanya tidak akan pernah bisa menyaingimu dalam suatu apa pun'.”8)

Dari Qais radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Abu Bakar radhiyallahu 'anhu telah memerdekakan Bilal dengan cara membelinya (dari tuannya). Ketika itu Bilal sedang disiksa dengan cara ditindih batu. Abu Bakar membelinya dengan emas sebanyak 5 uqiyah. Maka orang-orang berkata kepada Abu Bakar, “Seandainya kamu tidak menyepakati harga itu dan hanya menawar seharga satu uqiyah emas, pasti kami akan menjual Bilal kepadamu.” Abu Bakar balik menjawab, “Seandainya kalian menjualnya seharga 100 uqiyah, pasti aku pun akan memerdekakannya.”9)

Keutamaan dan Perjalanan Hidup Abu Bakar
Para ulama ahli sejarah menyebutkan bahwa Abu Bakar ikut perang Badar bersama-sama dengan Rasulullah dan juga ikut pada peperangan yang lain. Dia tidak pernah absen dalam setiap peperangan. Pada waktu perang Uhud, tepatnya ketika orang-orang Islam sudah mulai terdesak, Abu Bakar masih setia di barisan peperangan. Abu Bakar juga telah dipercaya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memegang panji kebesaran umat Islam pada waktu perang Tabuk.

Ketika Abu Bakar memeluk agama Islam, dia memiliki uang sebasar 40.000 Dirham. Uang itulah yang dia gunakan untuk memerdekakan para hamba sahaya yang disiksa tuannya karena memeluk agama Allah. Uang itu juga digunakan untuk memperkuat perjuangan kaum muslimin. Beliaulah orang yang pertama kali mengkodifikasikan kitab suci Al Qur'an. Abu Bakar senantiasa menjauhkan dirinya dari segala jenis minuman keras, baik pada masa jahiliyah maupun masa Islam. Beliau juga orang yang pertama kali muntah karena menjauhkan dirinya dari sesuatu yang bersifat syubhat. 10)

Di antara keutamaan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang lainnnya adalah, ia orang pertama yang diangkat sebagai khalifah dan ayahandanya masih hidup. Ia juga khalifah yang pertama kali digaji oleh rakyatnya. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, “Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia pun berkata, 'Kaumku telah mengetahui bahwa mata pencaharianku masih mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Namun aku disibukkan menangani urusan kaum muslimin. Oleh karena itu, keluarga Abu Bakar akan makan dari harta (gaji) ini dan Abu Bakar sendiri akan menangani urusan kaum muslimin'.”

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Atha' bin As Sa'id, dia berkata, “Ketika Abu Bakar telah dibai'at untuk menjadi khalifah, maka pada suatu pagi beliau pergi dengan membawa kain dagangannya menuju pasar. Umar berkata, 'Kamu hendak pergi kemana?' Abu Bakar menjawab, “Mau ke pasar'. Umar berkata, 'Apa yang akan kamu kerjakan sedangkan kamu ditugaskan untuk menangani urusan kaum muslimin?' Abu Bakar menjawab, 'Lalu dari mana aku akan menafkahi keluargaku?' Umar berkata, 'Pergilah kamu (bersamaku) agar Abu Ubaidah mengalokasikan uang gaji untukmu'. Maka Abu Bakar dan Umar menjumpai Abu Ubaidah sehingga Abu Ubaidah pun berkata, 'Aku menetapkan gaji untukmu berupa bahan makanan yang standar bagi seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin, yakni bukan makanan orang paling kaya dan juga bukan makanan orang yang paling miskin, serta pakaian pada musim dingin dan panas. Jika pakaian itu telah usang, maka kembalikanlah pakaian itu dan kamu bisa mengambil pakaian yang lain lagi'. Umar dan Abu Ubaidah juga memberi jatah Abu Bakar berupa setengah daging kambing dalam seharinya dan keperluan lainnya yang dipakai di kepala dan badan.”

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Maimun, dia berkata, “Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, maka orang-orang memberikan uang sebanyak 2000 kepadanya. Abu Bakar berkata, 'Tambahlah untukku, karena sesungguhnya aku memiliki banyak keluarga dan kamu telah membuatku tidak bisa lagi berdagang'. Maka orang-orang menambahkan lagi sebanyak 500.”

Ath-Thabrani meriwatkan di dalam kitab musnad-nya dari Al Hassan bin Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Ketika Abu Bakar hendak meninggal dunia, dia berkata, 'Wahai Aisyah, coba periksa unta perahan yang air susunya biasa kita konsumsi, wadah dari kulit unta yang biasa kita pergunakan untuk wadah air, dan kain beludru yang kita manfaatkan ketika kita masih dipercaya untuk mengurusi kaum muslimin. Jika aku nanti meninggal dunia, maka kembalikan benda itu semua kepada Umar!' Ketika Abu Bakar meninggal dunia maka Aisyah mengembalikan semua barang itu kepada Umar. Maka Umar pun berkata, 'Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu, wahai Abu Bakar! Kamu sungguh-sungguh memberikan contoh yang sangat sulit bagi generasi setelahmu'.”

Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafsh, dia berkata, “Ketika Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengalami sakaratul maut, dia berkata kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, 'Wahai putriku, sesungguhnya kita telah mengurusi kaum muslimin dan kita tidak makan satu Dinar atau satu Dirham pun (harta Mereka). Akan tetapi, kita mengkonsumsi makanan kasar mereka di dalam perut kita ini, kita mengenakan pakaian kasar milik mereka di tubuh kita ini, dan kita juga tidak mendapatkan harta rampasan perang kaum muslimin sedikit pun kecuali hanya seorang hamba sahaya dari Abisinia, unta perahan, dan pakaian beludru yang telah usang ini. Oleh karena itu, jika aku mati nanti, maka kembalikanlah semua ini kepada Umar!'”

Di antara keutamaan lainnya yang dimiliki Abu Bakar adalah, ia orang yang pertama kali memiliki ide membuat Baitul Mal (badan untuk menyimpan harta). Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Sahal bin Abu Khaitsamah dan beberapa perawi yang lain bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu memiliki Baitul Mal yang berada di daerah Sunh. Namun Baitul Mal tersebut tidak dijaga oleh seorang pun. Maka ada orang yang berkata kepada beliau, “Tidakkah Anda menyuruh seseorang untuk menjaganya?” Abu Bakar menjawab, “Tempat itu sudah dikunci.”

Abu Bakar telah menshadaqahkan seluruh harta yang ada dalam rumah itu sampai habis. Ketika pindah ke Madinah, Abu Bakar juga mengalihkan Baitul Mal tersebut. Dia menjadikan rumahnya sebagai Baitul Mal. Maka, dia pun menghimpun sejumlah harta kemudiaan dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir. Dia membagikan harta itu secara adil. Abu Bakar juga telah membeli unta, kuda, dan senjata untuk disumbangkan sebagai peralatan perang di jalan Allah. Beliau telah membeli sejumlah kain sutra untuk dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah.

Ketika beliau meninggal dunia dan jenazahnya telah dikebumikan, maka Umar memanggil beberapa orang kepercayaannya. Dia mengajak mereka untuk masuk ke dalam Baitul Mal milik Abu Bakar. Di antara orang yang diajak masuk ke dalam tempat itu adalah Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Ternyata mereka tidak menjumpai sesuatu pun di dalam tempat itu, sekali pun hanya sekeping dinar maupun dirham.

Menurutku berdasarkan keterangan ini, maka pendapat Ibnu Al Askari di dalam kitab Al Awaa'il menjadi tersanggah. Dia telah mengatakan bahwa orang yang pertama kali memiliki ide membuat Baitul Mal adalah Umar bin Khaththab. Bahkan, dia juga mengatakan bahwa di masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maupun di masa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu belum pernah ada Baitul Mal.

Aku telah memaparkan masalah ini di dalam kitab karanganku. Namun aku juga menjumpai Ibnu Al Askari meralat pendapatnya itu di dalam kitab karangannya yang lain sebagai berikut, “Sesungguhnya orang yang pertama kali mencetuskan ide Baitul Mal adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah pada masa kekhilafahan Abu Bakar.”

Di antara keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq yang lainnya adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al Hakim sebagai berikut, “Julukan yang pertama kali muncul dalam Islam adalah julukan yang diberikan kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Beliau dijuluki dengan sebutan 'Atiq (orang yang terbebas dari api neraka).”

Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa dari 10 0rang yang pertama kali masuk Islam, ada 5 orang yang menyatakan keislamannya di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Mereka itu adalah Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhum.11)).

Dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan orang-orang sebagai berikut, “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan pilihan kepada seorang hamba untuk (hidup di alam) dunia atau berada di sisi-Nya. (Maksudnya adalah meninggal dunia). Ternyata hamba itu lebih memilih untuk tinggal di sisi-Nya.” Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menangis. Tentu saja kami merasa heran dengan tangisan Abu Bakar yang disebabkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengabarkan tentang seorang hamba yang telah disuruh memilih oleh Allah. Ternyata, hamba yang disuruh untuk memilih dua hal itu adalah Rasulullah sendiri. Abu Bakar memang orang yang paling memahami maksud sabda Rasulullah tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling tulus menjalin persahabatan denganku dan yang paling dermawan mendermakan hartanya untuk (perjuangan)ku adalah Abu Bakar. Seandainya aku mengangkat seorang Khalil (kekasih) selain Tuhanku 'Azza wa Jalla, pasti aku telah mengangkat Abu Bakar (sebagai Khalil). Akan tetapi persaudaraan dan saling mencintai dalam ikatan Islam (jauh lebih baik). Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, kecuali hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pintu Abu Bakar saja yang terbuka adalah restu Rasulullah agar dia menjadi khalifah setelah beliau–penerj.) (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain)12)

Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba Abu Bakar datang sambil memegang ujung pakaiannya sehingga kedua lututnya sampai terlihat. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Adapun sahabat kalian (yang sedang datang kemari ini), maka dia telah bertengkar (dengan seseorang).” Lalu Abu Bakar mengucapkan salam kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah terjadi diskusi antara diriku dengan Ibnu Khaththab (Umar)! Memang aku terburu-buru marah kepadanya, namun aku menyesali kejadian tersebut sehingga aku meminta maaf kepadanya. Akan tetapi, dia enggan memaafkan kesalahanku. Oleh karena itu, aku pergi menghadapmu.” Rasulullah bersabda, “Allah akan mengampunimu, wahai Abu Bakar.” Rasulullah mengucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali.

Ternyata Umar menyesali perbuatannya sehingga dia berkunjung ke rumah Abu Bakar. Dia pun berkata, “Abu bakar telah berbuat salah (kepadaku).” Namun orang-orang berkata, “Tidak.” Akhirnya Umar datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia mengucapkan salam kepada beliau. Namun raut wajah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlihat berubah karena marah. Hal itu semakin membuat Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar. Akhirnya Abu Bakar berlutut (di hadapan Rasulullah) sambil berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku malah merasa semakin berbuat zhalim (kepada Umar)!” Abu Bakar mengucapkan kalimat itu sebanyak dua kali.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata, 'Kamu adalah pendusta'. Berbeda dengan Abu Bakar yang membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan harta bendanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) sahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu sebanyak dua kali. Sejak itulah Abu Bakar tidak pernah disakiti (oleh seorang pun dari kaum Muslimin. (HR. Bukhari)

Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Kami pergi berperang bersama-sama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada waktu perang Hunain. Ketika kami telah berjumpa dengan pihak musuh, maka kaum muslimin mulai terdesak. Aku melihat ada seorang laki-laki dari kaum musyrik akan menghabisi nyawa seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin. Aku langsung berputar untuk mendatanginya dari arah belakang. Aku mengayunkan pedangku ke tengkuk lelaki musyrik tersebut. Ternyata, dia malah berbalik ke hadapanku sambil merangkulku dengan sangat kuat. Aku mencium aroma kematian dari tubuhnya. Sampai Akhirnya dia meninggal dunia dan melepaskan rangkulannya dari tubuhku. Aku akhirnya menghampiri Umar bin Khaththab sembari berkata, 'Bagaimana kondisi orang-orang?' Umar menjawab, “Berada dalam pertolongan Allah.”

Setelah itu, orang-orang pulang. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam duduk sambil bersabda, “Barangsiapa berhasil membunuh seseorang, hendaklah dia mendatangkan bukti sehingga dia bisa memiliki harta orang yang dia bunuh.” Aku pun berdiri sambil berkata, “Siapa yang mau menjadi saksi untukku?” Kemudian aku duduk dan Rasulullah kembali bersada, “Barangsiapa yang berhasil membunuh seseorang, hendaklah dia mendatangkan bukti sehingga dia bisa memiliki harta orang yang dia bunuh.” Aku pun kembali berdiri sambil berkata, “Siapa yang mau menjadi saksi untukku?” aku kembali duduk (karena masih tidak ada orang yang mau menjadi saksi untukku).

Rasulullah menyabdakan kalimat serupa untuk yang ketiga kalinya. Maka ada seorang laki-laki berkata, “Dia berkata jujur, wahai Rasulullah! Harta rampasan perang orang itu berada padaku. Maka, relakanlah harta miliknya itu agar menjadi milikku. “Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Tidak, demi Allah! Tidak ada salah seorang dari singa Allah yang ikut berperang di jalan Allah dan Rasul-Nya lalu dia memberikan harta rampasan perangnya kepadamu. “Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Abu Bakar berkata benar. Berikanlah harta rampasan perang itu kepadanya!” Akhirnya aku menjual baju perang (milik orang musyrik tersebut) kemudian uang hasil penjualannya aku belikan sebuah kebun buah di daerah kabilah Bani Salamah. Itulah harta pertama yang aku miliki dalam Islam. 13) Hadits ini mengandung keterangan bahwa Abu Bakar telah mengeluarkan fatwa di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini merupakan salah satu keutamaan yang dimiliki Abu Bakar.

Dari Sahal bin Sa'ad, dia berkata: Pernah terjadi peperangan di Bani Amru bin Auf. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar peristiwa tersebut. Beliau mengunjungi mereka setelah waktu zhuhur. Tujuan beliau datang adalah untuk mendamaikan mereka. Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal jika waktu shalat (Ashar) telah tiba dan aku juga belum datang, maka perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi orang-orang.” Ketika waktu shalat (Ashar) telah tiba, seperti biasa Bilal mengumandangkan iqamah shalat. Lalu dia memerintahkan Abu Bakar (untuk mengimami shalat). Maka Abu Bakar menjadi imam shalat bagi mereka. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang setelah Abu Bakar memulai shalatnya.

Ketika orang-orang melihat Rasulullah datang, mereka menepuk tangan (untuk memberi tanda kepada Abu Bakar). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang dengan membelah barisan shalat orang-orang sampai akhirnya berdiri di belakang Abu Bakar. (Perawi berkata, “jika telah memulai shalatnya maka Abu Bakar tidak akan lagi menoleh). Ketika Abu Bakar mendengar suara tepukan tangan yang tiada kunjung berhenti, maka dia pun akhirnya menoleh. Dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berada di belakangnya. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya, “Teruskanlah!” Maka Abu Bakar tetap berdiri di tempatnya sambil membaca tahmid kepada Allah karena hal itu. Setelah itu Abu Bakar berjalan mundur secara perlahan-lahan. Akhirnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami orang-orang mengerjakan shalat.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam usai menunaikan shalat, beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar apa yang menghalangimu (untuk meneruskan shalat) ketika aku memberimu isyarat terus?” Abu Bakar menjawab, “Tidak pantas Ibnu Abi Quhafah mengimami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah bersabda kepada orang-orang, “Jika terjadi sesuatu di tengah shalat kalian, maka hendaklah orang-orang lelaki membaca tasbih dan orang-orang perempuan menepuk tangan.” (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain)14)

Dari Aisyah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ketika sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah semakin parah, Bilal (seperti biasanya) mengumandangkan adzan shalat. Maka beliau bersabda, “Perintahkanlah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi orang-orang!”

Aisyah berkata, “Maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang mudah menangis. Sesungguhnya ketika dia berdiri untuk menggantikanmu, maka orang-orang tidak akan bisa mendengar suaranya (dengan jelas). Seandainya saja Anda memerintahkan Umar'. Rasulullah bersabda,'Perintahlah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi orang-orang!'”

Aisah berkata, “Maka aku berkata kepada Hafshah, “coba berbicaralah kepada Rasulullah, 'Abu Bakar adalah orang yang mudah sekali menangis. Sesungguhnya ketika dia berdiri menggantikan posisimu, maka orang-orang tidak akan bisa mendengar suaranya. Andai saja Anda memerintahkan Umar'. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda lagi, 'Sungguh kalian ini seperti para perempuan Yusuf (dalam hal suka membantah). Perintahkanlah Abu Bakar agar menjadi imam shalat bagi orang-orang!'”

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Maka, mereka memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat. Ketika Abu Bakar mulai menunaikan ibadah shalat, ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa kalau sakitnya sedikit berkurang. Beliau berdiri dengan dibantu oleh dua orang laki-laki yang menuntun beliau, sedangkan kedua kaki Rasulullah sendiri pada waktu itu berjalan tertatih-tatih. Sampai akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid. Ketika Abu Bakar mendengar gerak perlahan Rasulullah, maka dia langsung bergerak mundur. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberinya isyarat, 'Tetaplah berdiri seperti semula!' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus berjalan sehingga duduk di samping kiri Abu Bakar, sedangkan Abu Bakar tetap dalam posisi berdiri. Abu Bakar mengikuti shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan orang-orang mengikuti shalat Abu Bakar.” (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain)15)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sama sekali tidak ada harta yang memberi manfaat bagiku, sebagaimana manfaat harta milik Abu Bakar.” Lalu Abu Bakar menangis sambil berkata, “Bukankah memang diri dan hartaku hanya milikmu, wahai Rasulullah?” (HR. Ahmad)16)

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya, dia berkata: Ada seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu beliau memerintahnya untuk kembali datang menjumpai beliau. Namun wanita itu berkata, “Bagaimana jika aku kembali nanti aku tidak menjumpai Anda?” Sepertinya maksud wanita itu adalah, bagaimana kalau beliau telah wafat. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu tidak menjumpai aku, maka datanglah kamu kepada Abu Bakar!” (HR.Bukhari)17)

Dari Abu Raja' Al Atharidi, dia berkata: Aku memasuki kota Madinah. Lalu Aku melihat orang-orang sedang berkumpul. Aku juga melihat seorang laki-laki sedang mengecup kepala seorang laki-laki yang lain. Dia juga berkata, “Aku adalah tebusan untukmu. Seandainya bukan karena Anda, pasti kami semua telah binasa.” Maka aku berkata, “Siapakah orang yang mengecup dan siapakah orang yang dikecup keningnya itu?” Orang-orang pun menjawab, “Itu adalah Umar yang telah mengecup kening Abu Bakar ketika telah memerangi ahlur-riddah (orang-orang yang murtad). Sebab, mereka itu adalah orang-orang yang enggan membayar zakat sampai akhirnya mereka dipaksa untuk membayarnya.”

Dari Muhammad bin Al Hanafiyah, daia berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku, “siapakah manusia yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Ali bin Abi Thalib menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Ali menjawab, “kemudian Umar.” Sebenarnya aku khawatir kalau ayahku akan menyebutkan nama Utsman. Maka aku berkata, “Kemudian Anda.” Namun dia malah berkata, “Ayahmu ini hanyalah salah seorang lelaki dari kalangan kaum muslimin.” (HR.Bukhari)18)

Dari Abu Sarihah, dia berkata: Aku pernah mendengar Ali radhiytallahu 'anhuberkata di atas mimbar, “Ingatlah, sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang sangat pandai memelihara hati (dari hal-hal yang buruk).”19)

Dari Za'id bin Arqam radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki seorang hamba sahaya yang berkhianat kepadanya. Pada suatu malam, hamba sahaya itu datang dengan membawa makanan. Maka, Abu Bakar menelan sesuap dari makanan yang dibawa hamba sahaya tersebut. Setelah itu hamba sahaya itu berkata, “Mengapa kamu setiap malam bertanya kepadaku dan pada malam hari ini tidak melontarkan sebuah pertanyaan?” Abu Bakar menjawab, “Hal itu disebabkan karena aku merasa sangat lapar. Dari manakah kamu mendapatkan makanan ini?” Hamba sahaya itu berkata, “Aku pernah melewati sekelompok orang jahiliyyah, maka aku membacakan mantera kepada mereka sehingga mereka menjanjikan aku (untuk memberi sesuatu). Pada hari inilah, ketika aku melewati mereka lagi, ternyata mereka memiliki sebuah acara pernikahan. Akhirnya, mereka memberiku makanan.” Abu Bakar berkata, “Celaka kamu ini, hampir saja kamu membuatku binasa (karena makanan yang tidak halal tersebut)!”

Maka, Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam kerongkongannya dan dia pun mulai akan muntah. Namun sesuap makanan itu tidak juga mau keluar dari kerongkongannya. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya makanan itu tidak akan keluar kecuali dengan bantuan air.” Abu Bakar minta diambilkan air dalam sebuah wadah. Dia pun meminum air tersebut sampai akhirnya berhasil memuntahkan makanan itu. Dikatakan lagi kepada Abu Bakar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu. Apakah semua ini gara-gara sesuap makanan itu?” Abu Bakar berkata, “Seandainya makanan itu tidak keluar kecuali dengan jiwaku, maka aku pasti akan mengeluarkannya juga. Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih berhak baginya.' Oleh karena itu, aku merasa khawatir kalau ada sesuatu yang haram tumbuh di dalam jasadku dari sesuap makanan itu.” (Bukhari meriwayatkan ujung hadits ini dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha)

Dari Hisyam, dari Muhammad, dia berkata, “Orang dari kalangan umat ini yang paling memiliki kecemburuan besar terhadap agama setelah Nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Dari Muhammad bin Sirin, dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang takut terhadap (larangan) yang dia telah ketahui setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi Abu Bakar.”20)

Dari Qais, dia berkata: Aku telah melihat Abu Bakar memegang ujung lidahnya sembari berkata, “Inilah yang menggiringku ke tempat sumber air (kelak di hari kiamat).”

Kekhilafahan Abu Bakar
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Umar bin Khaththab telah berkata, “Diantara berita yang beredar di tengah-tengah kami pada hari wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Ali dan Az-Zubair berada di rumah Fathimah, sedangkan para sahabat kalangan Anshar sedang berada di Saqifah Bani Sa'idah. Berbeda dengan para sahabat kalangan Muhajirin yang pada waktu itu berkumpul di sekitar Abu Bakar. Maka aku (Umar) berkata kepadanya, 'Wahai Abu Bakar, mari beranjak bersama kami menuju saudara-saudara kita dari kalangan Anshar!'

Akhirnya kami semua bertolak sampai akhirnya bertemu dengan dua orang lelaki shalih. Keduanya memberitahu kami tentang apa yang sedang dikerjakan orang-orang. Keduanya berkata, 'Wahai orang-orang Muhajirin, kalian semua hendak pergi kemana?' Aku menjawab, 'Kami hendak mengunjungi saudara-saudara kami dari kalangan Anshar'. Namun keduanya malah berkata, 'Kalian tidak usah mengunjungi mereka, kerjakan saja urusan kalian!' Maka aku berkata, 'Demi Allah, kami tetap akan mengunjungi mereka.'

Kami terus bertolak sampai akhirnya tiba di tengah-tengah mereka, tepatnya di Saqifah Bani Sa'idah. Ternyata mereka semua telah berkumpul. Di hadapan mereka ada seorang laki-laki berselimut. Maka aku pun bertanya, 'Siapakah ini?' Orang-orang menjawab, 'Sa'ad bin Ubadah'. Aku kembali berkata, 'Ada apa dengannya?' Mereka kembali menjawab, 'Dia tengah menderita sakit'.

Ketika kami duduk, tiba-tiba orator kaum Anshar berdiri sambil melafazhkan kalimat pujian kepada Allah 'Azza wa Jalla sebagai dzat yang memang layak untuk menerima segala bentuk pujian. Dia juga berkata, 'Amma ba'du, kita semua adalah para penolong Allah sekaligus juga sebagai pasukan berkuda agama Islam. Sedangkan kalian -wahai sekalian orang-orang Muhajirin- hanyalah sekelompok orang dari kita. Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalian yang diam-diam hendak menyingkirkan kami dan menjauhkan kami dari sebuah urusan yang besar'.”

Umar berkata, “Ketika orang itu telah diam, maka aku hendak berbicara. Sungguh aku telah mempersiapkan sebuah kalimat yang menurutku sangat bagus untuk diutarakan. Aku hendak mengutarakannya juga di hadapan Abu Bakar, sebab aku juga pernah tidak sependapat dengannya dalam beberapa hal. Namun, bagaimanapun juga, Abu Bakar adalah orang yang lebih sabar dan lebih berwibawa dibandingkan aku. Ternyata Abu Bakar berkata kepadaku, 'Bersikaplah agak pelan!' Tentu saja aku tidak suka kalau marah kepadanya. Demi Allah, ternyata Abu Bakar tidak meninggalkan beberapa konsep kalimat yang aku persiapkan. Semua ide yang ada dalam benakku telah dia lontarkan di hadapan orang-orang dengan redaksi yang sangat santun. Dia terus mengucapkan hal itu sampai akhir perkataannya.

Dalam hal ini Abu Bakar berkata, 'Amma ba'du, adapun hal-hal positif yang telah kalian utarakan, memang sudah terbukti kalian lakukan. Namun tidak ada orang Arab yang mengetahui permasalahan (kekhilafahan) ini kecuali memang berada di tangan salah seorang penghuni kampung dari kalangan suku Quraisy ini. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki nasab dan tempat tinggal yang paling baik. Aku ridha kalau salah seorang dari kedua orang ini menjadi pemimmpin kalian. Terserah, mana diantara keduanya yang akan kalian pilih'.”

Umar berkata, “Ternyata Abu Bakar mengandeng tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Sesungguhnya semua perkataan Abu Bakar yang telah di lontarkan tidak ada yang aku benci kecuali hanya yang terakhir ini. Demi Allah, hal itu sama dengan aku disuruh maju kemudian tengkukku dipenggal. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan aku kepada sebuah dosa, kecuali dia masih lebih aku sukai daripada harus memimpin sebuah kaum sedangkan di tengah-tengah mereka nasih ada Abu Bakar, kecuali apabila dia memang membujukku untuk menerima jabatan tersebut ketika dia sudah hendak meninggal dunia.

Tiba-tiba ada seseorang dari kalangan Anshar berkata, 'Aku adalah orang yang bisa dipercaya pendapatnya lagi berpengalaman. Aku juga tokoh yang cukup dihormati. (Lebih baik) di antara kita ada seorang pemimpin dan di antara kalian juga ada seorang pemimpin'. Maka, suara gaduh pun terdengar sampai aku khawatir kalau persatuan orang-orang muslimin pecah. Ketika itulah aku berkata, 'Julurkanlah tanganmu, wahai Abu Bakar! Karena aku akan membaiatmu sebagai khalifah'. Maka, Abu Bakar dibaiat oleh orang-orang Muhajirin yang kemudian diikuti oleh orang-orang Anshar.” (HR. Imam Ahmad) 21)

Lalu Abu Bakar datang kemudian menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah. Abu Bakar mengecup kening beliau kemudian berkata, “Aku bersumpah, kamu tetap wangi baik dalam keadaan hidup maupun mati. Demi Dzat Yang Menguasai jiwaku, Allah selamanya tidak akan menimpakan dua kematian kepadamu!” Kemudian Abu Bakar keluar sambil berkata kepada Umar, “Wahai orang yang mengucapkan sumpah, tenanglah!” Ketika Abu Bakar telah berbicara, maka Umar pun duduk. Abu Bakar memuji Allah dan menyanjung-Nya. Dia berkata, “Ingatlah, barangsiapa menyembah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka, sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Baragsiapa menyembah Allah, Maka, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup lagi tidak akan pernah mati.”

Abu Bakar membaca ayat Al Qur'an, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar(39):30) Begitu pula dengan firman Allah Ta'ala, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memeberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al 'Imran(3):144)

Umar berkata, “Maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mencucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshar berkumpul di sekitar Sa'ad bin Ubadah yang berada di Saqafah Bani Sa'idah.” Mereka berkata, “Di antara kita ada seorang pemimpin dan di antara kalian juga ada seorang pemimpin.” Maka Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah menghampiri mereka. Umar mulai berbicara. Namun Abu Bakar menyuruhnya untuk diam. Dalam hal ini Umar berkata, “Demi Allah, aku telah mempersiapkan ungkapan yang menurutku sangat bagus untuk dilontarkan pada waktu itu. Aku khawatir kalau ideku itu tidak disampaikan oleh Abu Bakar. Namun, ternyata Abu Bakar berbicara dan tampil sebagai orang yang paling komprehensif dan substansi pembicaraannya.

Ketika itu Abu Bakar berkata, “Kami adalah para amir dan kalian adalah anggota dewan kabinet.” Abu Bakar balik berkata, “Tidak, akan tetapi amir adalah dari kalangan kami dan kalian adalah anggota dewan kabinet.” Namun Habbab bin Al Mundzir berkata, “Tidak, demi Allah, kita tidak akan melakukan hal itu. Di antara kami ada seorang amir dan di antara kalian juga ada seorang amir.” Umar berkata kepada (Abu Bakar), “Bahkan, kami akan membai'atmu. Kamu adalah sayyid kami dan orang terbaik di antara kami. Kamu juga orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di antara kami semua.” Maka, Umar memegang tangan Abu Bakar untuk membai'atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata, “Kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa'ad bin Ubadah.” Maka Umar berkata, “Allah yang telah membunuhnya.”

Dari Humaid bin Hilal, dia berkata: Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, maka para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Tetapkanlah gaji yang mencukupi untuk khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Lalu sebagian yang lain berkata, “Ya, berilah dia dua helai kain beludru. Apabila kedua kain itu telah usang, maka hendaklah dia mengembalikannya dan mengambil lagi kain yang lain. Berikanlah juga fasilitas kendaraan jika dia bepergian dan sejumlah uang belanja untuk keluarganya, sebagaimana yang dia berikan sebelum diangkat sebagai khalifah.” Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku rela dengan hal itu.” 22)

Umair bin Ishaq berkata, “Abu Bakar pernah keluar memanggul beban di atas pundaknya. Maka ada seorang lelaki berkata kepadanya, 'Biarkanlah aku yang membawa barang itu untukmu!' Abu Bakar berkata, 'Jangan memperdulikan aku, dan jangan pula memperdaya diriku! Sebab, Ibnu Khaththab telah mencukupi kebutuhan keluargaku'.”

Menurut para ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibaiat menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata, “Sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata, “Tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memeraskan susu kambing-kambing mereka.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umrah, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. Dia memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Pada waktu itu, Abu Quhafah -ayah beliau- sedang duduk di depan pintu rumahnya. Dia ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah, “Ini putramu (telah datang)!”

Maka, Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Dia turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata, “Wahai ayahku, janganlah Anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu, datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan Al Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar, “Assalaamu'alaika, wahai khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!” Mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata, “Wahai Atiq (julukan untuk Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata, “Wahai ayahku, tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata, “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan zhalim?” Ternyata tidak ada seorang pun yang datang kepada Abu Bakar untuk melaporkan sebuah kezhaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Beberapa Khutbah dan Petuah Abu Bakar
Dari Hisyam bin Urwah, 23) dari ayahnya, dia berkata: Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia berkhutbah di hadapan khalayak. Dia mengucapkan kalimat pujian dan sanjungan kepada Allah sebagai Dzat yang memang layak untuk menerimanya. Setelah itu dia berkata, “Amma ba'du, wahai sekalian manusia, aku telah (dipilih) untuk menangani urusan kalian semua. Namun bukan berarti aku adalah orang yang paling baik di antara kalian. Akan tetapi Allah telah menurunkan Al Qur'an dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan beberapa ajaran Sunnah. Dialah yang mengajarkan hal itu kepada kita. Ketahuilah, sesungguhnya kepandaian yang paling tinggi tingkatannya adalah dengan bertakwa, dan kedunguan yang paling tinggi tingkatannya adalah dengan melakukan hal-hal yang aniaya! Sesungguhnya orang yang paling kuat di antara kalian adalah orang yang lemah di mataku, sehingga aku akan mengambil haknya untuk (kebahagian hidup)nya. Sebaliknya, orang yang paling lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di mataku, sehingga aku akan memberikan hak untuknya. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang yang diikuti dan bukan orang yang akan membuat bid'ah. Jika aku memang berbuat baik, maka tolonglah aku! Jika aku menyimpang, maka luruskanlah aku!”

Dari Abdullah bin 'Akim, dia berkata: Abu Bakar telah berkhutbah di hadapan kita semua sebagai berikut, 'amma ba'du, sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan menuji-Nya sebagai Dzat yang memang layak mendapatkan pujian. Hendaklah kalian memadukan antara perasaan harap dan cemas. Hendaklah kalian juga memohon kepada Allah dengan sangat serius. Sesungguhnya Allah telah memuji Zakaria dan keluarganya melalui firman-Nya, 'Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami'. (QS.Al Anbiyaa'(21):90)

Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah menggadaikan jiwa kalian dengan hak-Nya. Dia akan menagih hal itu dengan janji kalian. Ternyata di antara kalian ada yang lebih memilih untuk membeli sesuatu yang sedikit lagi fana dengan sesuatu yang banyak lagi kekal. Ini adalah kitab Allah yang ada di tengah-tengah kalian. Keajaibannya tidak akan pernahpadam. Oleh karena itu, percayailah firman-Nya, berikanlah nasehat dengan kandungan kitab itu, serta carilah pelita penerang dengannya pada hari kiamat nanti! Sesungguhnya kalian diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia telah mewakilkan kalian pada malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan. Mereka akan mengetahui semua tindak tanduk kalian.

Masa Sakit dan Wafatnya Abu Bakar
Dari Ibnu Hisyam,bahwa Abu Bakar dan Al Harits bin Kaladah pernah memakan makanan yang bernama harirah, yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. Lalu Al Harits berkata kepada Abu Bakar, “Angkatlah (tanganmu), wahai khalifah Rasulullah! Demi Allah, sesungguhnya dalam makanan itu terdapat racun. Aku dan dirimu akan mati pada hari yang sama.” Lalu Abu Bakar mengangkat tangannya (untuk menyudahi makannya). Ternyata, keduanya sama-sama jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia (pada hari yang sama pula), tepatnya di penghujung tahun.” 24)

Dari Abdurrahman bin Abdillah bin Sabith, dia berkata: Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengalami sakaratul maut,maka dia memanggil Umar. Lalu Abu Bakar berkata, “Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai Umar! Ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki sebuah amalan yang dikerjakan pada siang hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada malam hari. Begitu juga sebaliknya, Allah memiliki amalan yang dikerjakan pada malam hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada siang hari. Allah tidak akan menerima amalan sunah sampai kefardhuan-Nya ditunaikan terlebih dahulu. Bobot neraca seseorang akan berat pada hari kiamat hanya dengan cara mengikuti hal-hal yang benar ketika di dunia. Sesuatu yang benar akan menjadi berat apabila diletakkan di atas neraca timbangan amal. Namun bobot neraca akan ringan apabila ditumpuki kabatilan.

Sesungguhnya Allah Ta'ala mengingat para penghuni surga melalui amal baik mereka dan upaya mereka menjauhi keburukan. Jika aku mengingat para ahli surga, maka aku sangat khawatir kalau tidak termasuk dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah juga akan mengingat penduduk neraka melalui amal perbuatan buruk mereka. Jika aku telah mengingat para penghuni neraka, maka sesungguhnya aku berharap tidak termasuk golongan mereka. Hendaklah seorang senantiasa merasa harap cemas. Janganlah dia hanya berangan-angan mengenai Allah (tanpa beramal apapun). Hendakalah dia juga tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Jika kamu memelihara wasiatku ini, maka tidak ada sebuah perkara gaib yang paling kamu sukai melebihi kematian. Sebab, dia pasti akan mendatangimu. Jika kamu sampai menyia-nyiakan wasiatku, maka tidak ada perkara gaib yang paling kamu benci melebihi kematian, dan kamu tidak akan bisa mengelak darinya.” 25)

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika Abu Bakar jatuh sakit yang akhirnya menyebabkannya meninggal dunia, maka dia berkata, “Periksalah harta milikku, apa yang masih lebih semenjak aku menjabat sebagai khalifah! Kalau memang ada hartaku yang lebih, maka kirimkanlah kepada khalifah yang akan menjabat setelah aku!” Maka kami memeriksa harta miliknya. Ternyata kami menemukan seorang hamba yang biasa mengasuh anaknya dan seekor hewan tunggangan yang dipergunakan untuk menyiram kebunnya. Maka kami menyerahkan kedua harta itu kepada Umar.

Aisyah berkata, “Aku diberi kabar oleh kakekku bahwa Umar menangis (ketika menerima harta tersebut). Lalu Umar berkata, 'Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Bakar. Dia telah memberikan contoh yang sangat sulit bagi para penggantinya'.”

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika sedang mengalami sakaratul maut, Abu Bakar duduk sambil mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian dia berkata, “amma ba'du, wahai putriku, sesungguhnya orang yang paling aku sukai kekayaannya sepeninggalku adalah dirimu. Sesungguhnya orang yag paling mulia kefakirannya sepeninggalku adalah dirimu. Aku telah meninggalkan untukmu buah kurma sebanyak dua puluh wasaq. Demi Allah, aku ingin kamu mengumpulkannya! Sesungguhnya harta itu juga menjadi milik dua saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuanmu.”

Aisyah berkata, “Aku berkata, 'Ini memang dua saudara laki-lakiku. Lalu, siapakah saudara perempuanku (selain Asma')?' Abu Bakar menjawab, 'Anak yang ada di dalam kandungan Kharijah, karena aku menduganya akan terlahir sebagai anak perempuan'.”

Di dalam sebuah riwayat disebutkan dengan menggunakan redaksi, “Telah terlintas dalam hatiku bahwa anak itu akan terlahir sebagai anak perempuan.” Lalu terbukti lahirlah anak perempuan, yakni Ummu Kultsum. 26) Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika sakit Abu Bakar semakin parah, maka dia berkata, “Ini hari apa?” Kami menjawab, “Hari Senin.” Abu Bakar berkata lagi, “Sesungguhnya aku berharap aku meninggal dunia maksimal pada malam ini.”

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Di atas tubuh Abu Bakar ada pakaian yang terdapat bekas parfum dari bahan misik. Maka Abu Bakar berkata, 'Jika aku meninggal dunia nanti, basuhlah pakaianku ini kemudian gabung dengan dua kain baru yang lain. Kafanilah tubuhku dengan ketiga kain tersebut!' Maka kami berkata, 'Apakah tidak lebih baik kita menyediakan tiga lembar kain yang baru semua?' Abu Bakar menjawab, 'Tidak, karena pakaian yang lama akan terkena nanah yang mengalir di badan (kalau jenazahku sudah dimakamkan nanti)'. Ternyata Abu Bakar meninggal pada mala Selasa.” (HR. Bukhari) 27)

Menurut para ulama ahli sejarah, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu meninggal dunia pada malam Selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil Awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma' binti Umais, istri beliau. Maka, Asma' memandikan jenazahnya kemudian dikebumikan di samping makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Umar menshalati jenazahnya di antara makam Nabi dan mimbar. Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman, Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah. 28)

1) Dari Urwah bin Az-Zubair,dia berkata, “Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab A. Riwayat yang berasal dari Aisyah bahwa dia pernah ditanya,”Mengapa Abu Bakar diberi nama Atiq (orang yang dibebaskan)?” Dia menjawab, “Karena Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam telah melihatnya, “Lalu beliau (bersabda,”Haadza 'atiiqullaahi minan-nar (artinya: ini adalah orang yang dibebaskan Allah dari Neraka).”
B. Nama Atiq adalah nama yang diberikan oleh ibu beliau. Pendapat ini dikemukakan oleh Musa bin Thalhah
C. Atiq (artinya:sesuatu yang sangat menakjubkan). Dinamakan seperti itu karena wajah beliau sangat tampan. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Laitsi bin Sa'ad. Ibnu Qutaibah berkata, Nabi Shallallohu 'alaihi wa sa sallam memberi julukan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dengannama Atiq dilatarbelakangi ketampanan wajahnya. Bahkan Nabi Shallallohu 'alaihi wa sa sallam juga memberinya gelar Ash-Shiddiq. Rasulullah sendiri pernah bersabda,' sepeninggalku nanti akan ada 12 kekhilafahan. Abu Bakar Ash-Shiddiq akan memerintah dalam waktu yang tidak begitu lama.' ((Hadits ini berkualitas hasan dan diriwayatkan oleh Abul Qasim Al baghawi. Hadits ini juga telah dianggap hasan oleh Al Hafizh As-Suyuthi. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani(I/12,142) dalam kitab Al Ausath. Al Haitsami berkata, “Di dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat perawi yang bernama Mathlab bin Syu'aib.” Ibnu Adi berkata, “Aku tidak pernah melihatnya meriwayatkan hadits mungkar kecuali hanya pada hadits ini.” Sedang-kan perawi yang lainnya termasuk orang-orang yang tsiqah. Lihat kitab Al Majma'(V/178), juga kitab Al Kamil karya Ibnu Adi (IV/1542)
2) Keterangan ini berasal dari hakim bin Sa'ad, dia berkata, “Aku telah mendengar Ali bersumpah dengan nama Allah bahwa Dia menurunkan dari langit nama Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar.” Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan para perawi yang tsiqah.” Lihat kitab Al Majma'(IX/41).
3) Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dia berkata, “Aku bertanya kepada Anas mengenai daun pacar yang dikenakan Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam. Maka dia berkata, “sesungguhnya Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam tidak memiliki uban dikepalanya kecuali hanya sedikit. Berbeda dengan Abu Bakar dan Umar yang memiliki banyak uban sehingga keduanya mewarnai rambutnya dengan daun pacar atau daun katam. Setelah Fathu makkah, Abu Bakar pernah datang dengan ayahnya, yakni Abu Quhafah, untuk menghadap Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam. Dia mempersilakan ayahnya untuk duduk dihadapan beliau. Maka, Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam bersabda kepada Abu bakar, 'Andai kamu mempersilakan orangtuamu untuk duduk dirumahnya, pasti aku akan datang kepadanya sebagai bentuk penghormatanku kepada Abu Bakar'. Akhirnya Abu Quhafah memeluk agama Islam, sedangkan rambut kepala dang jenggotnya sudah putih semua seperti bunga tsaghamah yang berwarna putih. Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sa sallam bersabda,'Ubahlah warna rambut itu dan hindarilah pewarna hitam!' Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya'la dan Al Bazzar. Ujung hadits ini juga disebutkan dalam kitab As-shahih. Sedangkan para perawi Ahmad merupakan orang-orang yang telah meriwayatkan hadits shahih.” Lihat kitab Al Majma'(V/159-160).
4) Diriwayatkan dari Muawiyah, dia berkata, “Aku bersama ayahku berkunjung kerumah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu aku melihat Asma' berdiri dihadapan beliau, sedangkan rambut Abu Bakar sudah putih semua. Aku benar-benar melihat Abu Bakar sebagai seorang yang telah beruban dan berperawakan kurus. Dia menaikanku dan ayahku keatas dua ekor kuda. Kemudian kami pamit kepadanya, dan diapun mempersilakan kami untuk pergi.” Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan para perawi yang biasa meriwayatkan didalam kitab Ash-Shahih.”Lihat Al majma'(IX/4shallallahu 'alaihi wa sallam2
5) Al Hafizh berkata, “Jumhur ulama sepakat bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam dari kalangan laki-laki dewasa.” Lihat Fathul Bari (VII/207) Ibnu Asakir meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang baik dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqash, bahwa dia berkata kepada ayahnya,”Apakah Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan orang yang pertama kali masuk Islam diantara kalian?” Sa'ad menjawab, “Tidak, akan tetapi ada sekitar lima orang yang memeluk Islam lebih dahulu dibandingkan dia. Hanya saja dia memang orang yang kualitas Islamnya paling bagus diantara kita.” Ibnu Katsir berkata, “Yang jelas, anggota keluarga Rasulullah adalah orang-orang yang memeluk Islam lebih awal dibandingkan orang lain. Mereka itu adalah istri beliau Khadijah, hamba sahaya beliau yang bernama Zaid, istri Zaid yang bernama Ummu Aiman, kemudian Ali dan Waraqah.
6) Menurutku, hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitasamah dengan kualitas sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam, dia berkata, “Orang yang pertamakali mengerjakan shalat bersama Nabi Shallallohu 'alaihi wa sa sallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.” Ath-Thabrani juga menyebutkan riwayat yang telah disebutkan oleh penulis diatas. Hanya saja kualitas hadits tersebut tergolong sangat dha'if. Di dalam rangkaian sanad-nya terdapat Al Haitsam binAdi. Dia adalah perawi yang matruk, shallallahu 'alaihi wa sallamsebagaimana disebutkan oleh Al Haitsami dalam kitab Al Majma'(IX/43).
7) Menurutku (muhaqiq), kisah ini sebetulnya berasal dari Imam Bukhari yang disebutkan di dalam kitab Shahihnya (3856). Sedangkan redaksi cerita yang disebutkan oleh Imam Ibnu Jauzi diatas bersumber dari riwayat Abu Ya'la dengan kualitas sanad yang hasan. Hal ini sebagaimana di katakan oleh Al Hafizh di dalam kitab Al Fath (VII/207). Al Hafizh telah memberitakan komentar tentang kisah ini di dalam kitab Fathul Bari sebagai berikut: Abu Ya'la dan Al Bazzar meriwayatkan dengan kualitas sanad yang shahih dari sahabat Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Orang-orang Quraisy sempat memukul Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sekali sehingga beliau sampai tidak sadarkan diri.” Lalu Abu Bakar berdiri sembari menyeru, “Sungguh celaka kalian semua. Apakah kalian akan membunuh seoraung laki-laki yang telah mengatakan 'Tuhanku adalah Allah'?” Lalu orang-orang meninggalkan Rasulullah dan ganti menghampiri Abu Bakar. Riwayat ini tergolong riwayat marasilush-shahabah (riwayat mursal yang dikemukakan oleh sahabat).
8) Hadits ini berkualitas shahih dan diriwayatkan oleh Abu Daud (1678) dari riwayat Ahmad bin Shalih dan Utsman bin Abi Syaibah. Tirmidzi juga menyebutkan hadits ini di dalam kitab Al Manaqib (3675) dari Harun bin Abdillah. Ketiga perawi hadits ini mendapatkan riwayat hadits ini dari Abu Nu'aim Al Fadhl bin Dakin, dari Hisyam bin Sa'ad. Sedangkan Tirmidzi sendiri telah berkata, “Hadits ini berkualitas hasan shahih.”
9) Diriwayatkan dari Urwah, dia berkata, “Abu Bakar telah memerdekakan tujuh orang yang disiksa karena telah beriman kepada Allah. Di antaranya adalah Bilal dan Amir bin Fuhairah.” Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Sedangkan para perawi hadits ini sampai dengan mata rantai. Urwah adalah orang-orang yang meriwayatkan di dalam kitab Ash-Shahih.” Lihat kitab Al Majma' (IX/50). Menurutku, hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
10) Imam As-Suyuthi berkata di dalam kitab Al Awwaliyat: Di antara keutamaan yang dimiliki Abu Bakar adalah ia orang yang pertama kali memeluk agama Islam, orang yang pertama kali mengkodifikasikan Al Qur'an, orang yang pertama kali menamakan lembaran Al Qur'an dengan istilah mushaf dengan disertai dalil atas hal tersebut, dan sebagai orang yang pertama kali disebut dengan khalifah. Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Mulaikah, dia berkata, “Abu Bakar pernah ditanya, 'Wahai khalifatullah (wakil Allah)!' Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku adalah khalifatun-Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (wakil Nabi), dan aku ridha terhadap beliau'.”
11) Lihat dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam (I/250
12) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (466, 3654) dan Muslim (Fadha'ilush-Shahabah/2) pada bab “Min Fadha'ili Abi Bakrinish-Shiddiq radhiyallahu 'anhu (keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq)”.
13) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3142, 4321).
14) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (684) dan Muslim (Ash-Shalah/shalat, 102) pada bab “Taqdimul Jama'ah Man Yushalli Bihim Idza Ta'akhkhar al Imamu wa lam Yakhaafu Mafsadatan bit-Taqdim”.
15) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (713) dan Muslim (Ash-Shalah/95) pada bab “Istikhlaful Imaami Innamaa 'Uridha Lahu 'Udzrun min Maradhin wa Safarin wa Ghairihimaa Man Yushallii bin-Naas wa Anna Man Shallaa Khalfa Imaamin Jaalisin Li'aj-zihi 'Anil Qiyaam Lazimahul Qiyaami Idzaa Qadara 'Alaihi wa Naskhul Qu'uudi Khalfal Qaa'id fi Haqqi Man Qadara 'Alal Qiyaam”.
16) Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (II/253), Tirmidzi (3661), Ibnu Majah (94), Ibnu Hibban (2161), Ath-Thahawi di dalam Musykilul Atsar (II/230-231), Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah (II/577), dan Ath-Thahawi dalam kitab Syarhu Ma'a-nil Atsar (IV/158). Hadits ini juga dianggap shahih oleh Syaikh Al Albani. Lihat kitab Musykila-tul Faqr (13).
17) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (3659).
18) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3671).
19) menurutku, ini merupakan ungkapan yang mencerminkan sikap tawadhu yang sangat tinggi.
20) Menurutku, hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad, dari Ibnu Sirin. Dia berkata, “Tidak ada seseorang yang lebih tahu tentang sesuatu yang tidak dia ketahui (status kehalalannya) melebihi Abu Bakar. Tidak ada seorang pun setelah Abu Bakar yang lebih takut terhadap sesuatu yang tidak dia ketahui (status kehalalannya) melebihi Umar. Sesungguhnya apabila terjadi suatu permasalahan yang menimpa Abu Bakar, lalu dia tidak menjumpai dalilnya di dalam Al Qur'an maupun Sunnah, maka dia akan berkata,'Aku akan berijtihad melalui rasioku. Jika memang hasilnya benar, maka hal itu berasal dari Allah. Namun jika ternyata salah, maka hal itu berasal dari pribadiku, dan aku pun memohon ampun kepada Allah'.”
21) Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad. Kisah dalam hadits ini sebenarnya telah disebutkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Ash-Shahih (3667) dari riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha -istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- bahwa nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah meninggal dunia sedangkan Abu Bakar berada di daerah Sunh. (Menurut Ismail, Sunh adalah kawasan dataran tinggi) Lalu Umar berdiri sambil berkata, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggal dunia.” Umar juga berkata, “Demi Allah, yang terlintas dalam benakku pada waktu itu bahwa Rasulullah diutus oleh Allah untuk memotong tangan dan kaki orang-orang (kafir sampai habis).”
22) Menurutku, Ibnu Asakir meriwayatkan keterangan ini dari Aniah. Dia berkata, “Abu Bakar berada di tengah-tengah kita selama setahun sebelum diangkat sebagai khalifah, dan setahun setelah beliau menjabat sebagai khalifah. Ketika itu kaunm perempuan desa itu datang dengan membawa kambing mereka kepada Abu Bakar, sebab Abu Bakar menerima jasa memerahkan susu kambing.”
23) Menurutku, ucapan Abu Bakar ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa'ad dan Al Khathib pada riwayat milik Malik yang berasal dari Urwah. Malik berkata, “Tidak ada seorang pun yang diangkat jadi imam, kecuali dia harus memenuhi persyaratan ini. Maksudnya, persyaratan yang telah disebutkan oleh Abu Bakar radhiyallahu 'anhu di dalam pidato pengukuhannya.”
24) kualitas sanad hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim (III/64) dari Ibnu syihab, juga dengan kualitas sanad yang shahih. Bahkan, Al Hafizh As-Suyuthi juga mengakui keshahihannya. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa'ad di dalam kitab Thabaqatnya dengan kualitas sanad yang shahih.
25) Menurutku, Abdurrahman bin Abdillah bin Sabith adalah seorang perawi yang tsiqah. Dia menilai hadits tersebut mursal dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Al Hafizh di dalam kitab At-Tahdzib (III/364).
26) Hadits diriwayatkan oleh Imam Malik.
27) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
28) Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar berdiskusi mengenai hari kelahiran keduanya di sampingku. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata lebih tua dibanding Abu Bakar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Abu Bakar masih hidup dua tahun setengah sepeninggal Rasulullah.” Al Haitsami berkata, “di dalam kitab shahihnya disebutkan bahwa beliau meninggal pada usia 63 tahun.” Keterangan seperti ini juga disebutkan oleh Ath-Thabari dengan sanad yang berkualitas hasan. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia dalam usia 65 tahun, sedangkan Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan usia Rasulullah.

zaid bin tsabit

Kita berada di tahun 2 Hijriyah. Kota Madinah sedang bersiap untuk menghadapi perang Badar. Untuk yang terakhir kali, Rasulullah memeriksa pasukan yang akan menyertai beliau berjihad fi sabilillah dan mengokohkan Kalimah-Nya di muka bumi.

Datanglah seorang pemuda kecil berusia 13 tahun. Dia tampak cerdas, penuh semangat, dan fanatik. Di tangannya tergenggam pedang yang hampir sama tinggi dengan tubuhnya. Langsung saja dia menghampiri Rasulullah seraya berkata, “Aku siap berkorban untuk diri Anda, ya Rasulullah. Izinkan aku ikut berjihad di bawah komando Anda.”

Rasulullah memandangi pemuda kecil itu. Diam-diam beliau merasa kagum bercampur gembira. Diraihnya bahu anak itu, ditepuk dengan penuh kasih sayang, sambil dihiburnya, mengingat dia harus dikembalikan karena masih terlalu muda.

Akhirnya tampak seorang bocah pulang sambil menyeret pedangnya. Wajahnya murung karena tak mendapat kehormatan menyertai Rasulullah dalam perangnya yang pertama.

Sang ibu, Nuwar binti Malik, menyusul di belakangnya. Tak kurang kesedihannya daripada putranya. Ingin sekali dia melihat putranya berangkat sebagai mujahid bersama kaum lelaki yang lain di bawah panji-panji Rasulullah. Ingin sekali dia menyaksikan putranya mengantikan kedudukan ayahnya yang telah tiada.

Bocah itu adalah: Zaid bin Tsabit.


--------------------------------------------------------------------------------

Merasa gagal mendekati Rasulullah melalui perang, Zaid bin Tsabit memutar otak. Jalan mana yang bisa mendekatkannya dengan Rasulullah tanpa dikaitkan dengan faktor usia? Rasanya adalah jalan ilmu dan hafalan Al-Qur'an!

Diutarakannya hal ini kepada ibunya. Nuwar binti Malik merasa gembira. Dia bertekad untuk membantu sepenuhnya agar cita-cita putranya tercapai.

Selang beberapa waktu kemudian, Nuwar binti Malik menyampaikan hasrat Zaid bin Tsabit kepada tokoh-tokoh kaumnya. Mereka kemudian menghadap Rasulullah seraya berkata, “Wahai Nabiyullah, putra kami, Zaid bin Tsabit, hafal surat ini dan surat itu dari Kitabullah. Dia mampu membacanya dengan fasih sebagaimana waktu diturunkan ke dalam kalbu Anda. Di samping itu, dia juga pintar membaca dan menulis. Dia ingin mendekatkan diri kepada Anda dari jalan ini. Bolehlah Anda uji dia kalau berkenan….”

Rasulullah mendengarkan bacaan Zaid bin Tsabit tentang sebagian ayat yang dia hafal. Ternyata memang benar. Bacaan anak itu tepat sekali. Mantiq-nya (kaidah bahasanya) jelas, dan Kalimatullah tampak gemerlapan di lidahnya, sejelas pantulan bintang-bintang di permukaan telaga.

Rasulullah amat gembira karenanya. Apalagi setelah membuktikan kecekatannya dalam menulis. Beliau bersabda, “Ya Zaid, belajarlah bahasa Ibrani karena aku tak percaya pada apa-apa yang dituliskan orang-orang Yahudi itu.”

“Baik, ya Rasulullah,” jawab Zaid.

Dia langsung belajar bahasa 'Abriyah (bahasa Ibrani) dan berhasil menguasainya dalam waktu singkat. Sejak itu dialah yang menjadi sekretaris Rasulullah apabila beliau perlu berkirim surat kepada orang-orang Yahudi, dan membacakannya kalau mereka menulis surat.

Atas perintah Rasulullah juga, dia belajar bahasa Suryaniyah sebagaimana belajar bahasa 'Abriyah dulu.

Zaid bin Tsabit berhasil menjadi penerjamah Rasulullah!


--------------------------------------------------------------------------------

Rasulullah mempercayai kecerdasan, kejujuran, dan kemantapan berpikir Zaid. Untuk seterusnya beliau memberi amanah atas risalah langit, yaitu bertugas sebagai penulis wahyu. Bila sebuah ayat turun, Rasulullah menyuruh seseorang mencari Zaid bin Tsabit untuk menuliskan wahyu tersebut.

Dengan cara itu, Zaid menerima Al-Qur'an dalam keadaan utuh dari lidah Rasulullah yang suci, diikuti pula dengan penjelasan sebab-sebab diturunkannya. Jiwanya terang oleh cahaya hidayah, dan akalnya gemerlap oleh rahasia-rahasia syariatnya.

Anak yang beruntung itu telah lama mengkhususkan diri dalam penulisan Al-Qur'an, dan menjadi tumpuan utama kaum muslimin setelah Rasulullah wafat. Dialah orang yang mengawasi pengumpulan naskah-naskah Al-Qur'an pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq dan mengatasi perbedaan cara membaca pada masa pemerintahan Utsman.

Adakah kedudukan yang lebih membanggakan daripada ini? Adakah kejayaan lain yang lebih menakjubkan daripada ini?


--------------------------------------------------------------------------------

Salah satu bukti karunia Al-Qur'an bagi Zaid bin Tsabit adalah ketika terjadi masalah Saqifah Bani Sa'idah. Dia berhasil menjernihkan suasana keruh yang bisa menyebabkan perpecahan umat ini.

Masalahnya adalah siapa yang harus menjadi pemimpin umat setelah Rasulullah berpulang. Golongan Muhajirin berpendapat bahwa khilafah harus berada di tangan mereka sebab merekalah yang lebih utama dan lebih berhak. Sebagian golongan Anshar berpandangan bahwa khilafah harus di serahkan ke tangan mereka karena merekalah yang lebih layak. Sebagian golongan Anshar yang lain berkehendak membagi khilafah dengan adil di antara Anshar dan Muhajirin, sebab Rasulullah kalau memakai satu dari Muhajirin selalu menyertakan pula satu dari Anshar.

Perbedaan pendapat ini hampir saja menjadi fitnah besar, padahal jenazah Rasulullah masih membujur di antara mereka dan belum lagi dikebumikan.

Pada saat-saat ini perlu ada satu kalimat yang mampu menguraikan kemelut tersebut dengan hidayah Al-Qur'an. Perlu ada kata-kata yang maapu meredam fitnah dan menerangi jalan orang-orang yang kalap itu.

Kalimat yang ditunggu-tunggu itu meluncur dari mulut Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Dia berkata kepada kaumnya, “Wahai saudara-saudara Anshar, Rasulullah berasal dari golongan Muhajirin. Alangkah baiknya kalau khalifahnya juga seorang Muhajir seperti beliau. Karena kita adalah Anshar (pembela) Rasulullah, maka kita sekarang menjadi Anshar khalifahnya dalam kebenaran.”

Selanjutnya dia menunjuk Abu Bakar Ash-Shidiq sebagai khalifah seraya berkata, “Ini khalifah kalian; maka bai'atlah kepadanya.”


--------------------------------------------------------------------------------

Zaid bin Tsabit telah menjadi seorang guru besar. Pengertian dan pemahaman agamanya semakin dalam sejak dia menyertai Rasulullah. Dialah tempat bertanya bagi kaum muslimin. Dia tak pernah diabaikan dalam musyawarah yang diadakan oleh khalifah bila sedang ada kesulitan. Dia pula yang selalu dimintai fatwa oleh masyarakat dalam segala hal, misalnya warisan –sebab di kalangan muslimin saat itu tak ada yang lebih pandai darinya dalam hal faraidh–.

Pada hari Al-Jabiyah,1) Umar bin Khathab menyerukan kepada masyarakat, “Saudara-saudara, barangsiapa ingin bertanya soal Al-Qur'an, bisa datang kepada Zaid bin Tsabit. Barangsiapa ingin bertanya soal fiqih bisa datang kepada Mu'adz bin Jabal, dan barangsiapa ingin bertanya soal keuangan boleh datang kepadaku, Umar bin Khathab, karena Allah menjadikan aku sebagai wali-Nya yang akan membagi-bagikan harta-Nya.”


--------------------------------------------------------------------------------

Para penuntut ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi'in tahu persis bobot kualitas Zaid bin Tsabit. Oleh karena itu mereka menghormati karena ilmu yang dia miliki.

Suatu kali sang “samudra ilmu”, Abdullah bin Abbas melihat Zaid bin Tsabit hendak pulang naik kuda. Abdullah segera meraih kendali kemudian menuntun kuda tersebut.

Zaid melarang, “Lepaskan, wahai putra paman Rasulullah.”

Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kita diajar untuk menghargai guru-guru kita.”

Zaid lalu berkata, “Ulurkanlah tangan Anda.”

Begitu Ibnu Abbas mengulurkan tangannya, Zaid langsung mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kita diajar untuk berbuat kepada keluarga Rasulullah.”


--------------------------------------------------------------------------------

Ketika Zaid bin Tsabit wafat, kaum muslimin menangisi ilmunya yang ikut terkubur. Abu Hurairah berkata, “Hari ini adalah hari wafatnya guru umat ini. Semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai gantinya untuk kita.”

Adapun penyair Rasulullah, Hassan bin Tsabit, meratap dengan syair:

“Siapa nanti yang akan melayani tamu-tamu setelah Hassan dan putranya, Siapa akan menafsirkan Al-Qur'an setelah Zaid bin Tsabit…”2)